Kamis, 12 Juli 2012

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK


Tujuan :
1.      Mengetahui bagian-bagian Mikrolab 300.
2.      Menyalakan, mengoperasikan dan mematikan Mikrolab 300
Prinsip            :
Mampu menguraikan cahaya menjadi spektrum cahaya dengan daerah panjang gelombang yang sempit.

A.    Cara menyalakan alat Mikrolab 300 :
1.    Tekan stavol.
2.    Mikrolab dihidupkan dengan menekan tombol “ON”  tunggu 5 menit.
3.    Mikrolab menunjukkan “end of day maintence”.
4.    Bila keluar dilayar “flash the flox cell” tekan 12 sampai menyala.
5.    Bila mikrolab sudah selesai mengisap aquadest maka akan keluar menu dengan cara menekan “skip”.
6.    Mikrolab 300 siap digunakan.

B.     Cara program alat mikrolab 300.
1.      Mikrolab 300 dinyalakan, pada layar tampak :
a.       Measure
b.      Evalavte test
c.       Quality control
d.      Program
e.       User maintence
f.       Shut down
2.      Tekan (No.4) di layar tampak permintaan password.
3.      Klik next, tekan enter, isilah nama test dan data yang ada.
4.      Turunkan kursor ke setting – isi permintaan password yang ada.
5.      Turunkan kursor ke limit – isi semua permintaan.
6.      Yang menggunakan standard, turunkan kursor ke standard dan isi seperti perintah yang ada di monitor.
7.      Setelah selesai semua bila ingin program log tekan next seperti langkah no. 3 sampai dengan 6.

C.     Cara melakukan pemeriksaan alat Mikrolab 300
1.      Mikrolab dinyalakan.
2.      Dilayar tampak main menu.
3.      Pilih no.1 tekan enter, layar tampak program test menu.
4.      Pilih test yang akan di lakukan dengan menurun dan menaikkan kursor  lalau tekan enter kemudian dilayar tampak “Measure Enter”.
5.      Aquadest diisap dan biarkan sampai terganti menjadi “measure reagent blank”.
6.      Isap reagent blank tunggu sampai di layar
a.       Yang di pakai standar muncul :
·         Measure
·         Factor
·         Replication
·         Deviation
·         Standart
b.      Yang tidak dipakai standart, muncul :
·         Measure sampel
·         Patient name
·         Sampel code
·         Replication
7.      Kemudian isap test untuk sampel dan untuk setiap ganti sampel tekan dulu  next sampai selesai.
8.      Setelah selesai semua isap aquadest dengan menekan flush, biarkan beberapamenit kemudian tekan lagi flush.
9.      Apabila berganti ke test yang lain maka tekan back dan enter.

D.    Cara mencuci Mikrolab 300.
1.      Letakkan 5% sputoflavol dalam botol dibawah sipper.
2.      Tekan flush dan biarkan 10 menit.
3.      Ganti dengan aquadest dan biarkan 2 menit.
4.      Tekan flush.
5.      Setelah itu matikan alat dan biarkan aquadest yang masih ada.
6.      Jangan lupa cabut kabelnya dan matikan listriknya.

E.     Cara memprogram SGOT pada Mikrolab 300.
1.      Mikrolab dinyalakan muncul “test menu” lalu tekan ”back”.
2.      Tekan program.
Isi password dengan nama (contoh: Paul) maka dilayar akan muncul,program test menu (klik next).
3.      Klik next akan tampak “test protocol data”, isi :
a.       General
b.      Setting
c.       Limit
d.      Calibration
e.       Standards
4.      Klik general, layar akan muncul :
Name                 isi SGOT, tekan “enter”.
Units                 U/i, tekan “enter”
R. blanko                                
S. blank                         
Replication                  isi 1.
5.      Pilih setting, layar akan muncul :
a.       Mode
b.      Wave lingth 340/17597
c.       Volume 400
d.      T. Factor 1
e.       Delay 20
f.       Meas-time 40
6.      Pilih “Limits”, layar akan muncul :
L.Abs
HABs
REF.LOX
REF.HIGH
DECIMALS
L.ABSRB
H.ABSRB
7.      Pilih calibration, layar akan muncul :
Metode replication H.ABS
Name               L.ABS
8.      Pemograman selesai.

F.      Cara melakukan pemeriksaan Microlab 300 (Pemeriksaan SGOT)
1.      Microlab dinyalakan.
2.      Dipilih “Measure”, tekan “Enter” dilayar muncul program test menu.
3.      Dipilih program SGOT, dilayar tampak “Measure Water”
4.      Kemudian isaplah aquadest dan biarkan sampai berganti menjadi
      Measure
            Result
5.      Diisap test dan setiap untuk ganti sampel tekan dulu “Next” sampai selesai.
6.      Print hasil.
7.      Isaplah aquadest dengan menekan “Flush”, biarkan beberapa menit, kemudian tekan lagi “Flush”.
8.      Matikan Microlab 300.

G.    Jadwal perawatan dan perbaikan Microlab 300
1.      Pergantian Test.
a.       Letakkan “Neutral deterjen solution 5%” di sipper tube (contoh Labpro Neutral O2.
b.      Tekan tombol “flush”, biarkan flushing 2 menit.
c.       Biarkan aquadest dibawah sipper tube.
d.      Tekan tombol flush.
e.       Biarkan proses flushing selama 1 menit.
2.      Perawatan setengah hari.
a.       Letakkan 98% methanol di sipper tube.
b.      Tekan tombol “flush”.
c.       Biarkan flushing selama 2 menit.
d.      Letakkan aquadest dibawah sipper tube.
e.       Tekan tombol “flush”.
f.       Biarkan proses flushing selama 1 menit.
3.      Perawatan harian.
a.       Letakkan 5% Labpro Neutral O2 solution di sipper tube.
b.      Tekan tombol “flush”.
c.       Biarkan flushing selama 10 menit.
d.      Letakkan aquadest dibawah sipper tube.
e.       Tekan tombol “flush”.
f.       Biarkan proses flushing selama 2 menit.
g.      Matikan instrumen, biarkan aquadest ada didalam cuvete.
Jangan pernah membiarkan sampel atau campuran reagen didalam cuvete untuk jangka waktu yang lama.

Labpro Neutral O2 (Cat : 20102) cairan pencucian atau cleaning.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tes fungsi hati atau lebih dikenal dengan liver panel atau liver fun­ction test adalah sekelom­pok tes darah yang meng­ukur enzim atau protein ter­tentu di dalam darah anda. Tes fungsi hati umum­nya digunakan untuk mem­bantu men­deteksi, menilai dan meman­tau penyakit atau kerusakan hati.
Biasanya jika untuk meman­tau kon­disi hati, tes ini dilakukan secara ber­kala. Atau dilakukan juga ketika Anda memiliki risiko per­lukaan hati, ketika Anda memiliki penyakit hati, atau mun­cul gejala-gejala ter­tentu seperti jaun­dice (ikterus).
Untuk tes ini diper­lukan con­toh darah yang diam­bil dari pem­buluh balik (vena) umum­nya pada lengan pasien. Dan sebelum tes dilakukan, tidak diper­lukan per­siapan khusus, kecuali tes dilakukan ber­samaan dengan tes lain yang mung­kin memer­lukan per­siapan khusus.
Hati merupakan salah satu organ yang paling besar dalam tubuh manusia. Ber­lokasi di abdomen (perut) bagian atas kanan dan di balik rusuk-rusuk bagian bawah. Hati memetabolisme dan men­detok­sifikasi obat-obatan dan unsur-unsur yang ber­bahaya bagi tubuh. Ia juga meng­hasilkan faktor-faktor, protein dan enzim pem­bekuan darah, mem­bantu keseim­bangan hormon, serta menyimpan vitamin dan mineral. Empedu, suatu cairan yang diben­tuk oleh hati, dialirkan melalui saluran lang­sung ke usus halus untuk mem­bantu men­cerna lemak atau ke kan­dung empedu untuk disimpan dan digunakan untuk keper­luan kemudian.
Pel­ba­gai penyakit & infeksi dapat menyebabkan kerusakan akut maupun kronis pada hati, menyebabkan per­adangan, luka, sum­batan saluran empedu, kelainan pem­bekuan darah, dan disfungsi hati. Alkohol, obat-obatan, dan beberapa suplemen her­bal, serta racun juga bisa mem­berikan ancaman. Jika besar­nya kerusakan cukup ber­makna, maka akan menim­bulkan gejala-gejala jaun­dice, urine gelap, tinja ber­warna keabuan terang, pruritus, mual, kelelahan, diare, dan berat badan yang bisa ber­kurang atau ber­tam­bah secara tiba-tiba. Deteksi dini pen­ting untuk diag­nosis lebih awal guna minimalisasi kerusakan dan menyelamatkan fungsi hati.
B.     Tujuan
Untuk mengetahui kadar SGOT dalam darah.
C.     Manfaat
Untuk mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi hati.


D.    Prinsip
Komponen reagen (2 oxoglutase ) bereaksi dengan 1-aspartat menghasilkan L-glutamat yang bersifat stabil dan oxaloacetat bereaksi dengan NADH + H+ menghasilkan L-malat + NAD+ dan kemudian terbentuk warna.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tes Fungsi Hati
Tes fungsi hati, seperti yang disam­paikan sebelum­nya, meng­ukur enzim, protein dan unsur yang dihasilkan atau dilepaskan oleh hati dan dipengaruhi oleh kerusakan hati. Beberapa dihasilkan oleh sel-sel hati yang rusak dan beberapa men­cer­minkan kemam­puan hati yang menurun dalam melakukan satu atau beberapa fung­sinya. Ketika dilakukan ber­samaan, tes ini mem­berikan dok­ter gam­baran kon­disi kesehatan hati, suatu indikasi keparahan akan kerusakan hati, per­ubahan status hati dalam selang waktu ter­tentu, dan merupakan batu lon­catan untuk tes diag­nosis selanjutnya.
Tes ini biasanya ber­isi beberapa tes yang dilakukan ber­samaan pada con­toh darah yang diam­bil. Ini bisa meliputi:
a)      Alanine Aminotran­sferase (ALT)  — suatu enzim yang utamanya ditemukan di hati, paling baik untuk memeriksa hepatitis. Dulu disebut seba­gai SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Tran­saminase). Enzim ini ber­ada di dalam sel hati/hepatosit. Jika sel rusak, maka enzim ini akan dilepaskan ke dalam aliran darah.
b)      Alkaline Phos­phatase (ALP) – suatu enzim yang ter­kait dengan saluran empedu; sering­kali mening­kat jika ter­jadi sumbatan.
c)      Aspar­tate Aminotran­sferase (AST) – enzim ditemukan di hati dan di beberapa tem­pat lain di tubuh seperti jan­tung dan otot. Dulu disebut seba­gai SGOT (Serum Glutamic Oxoloacetic Tran­saminase), dilepaskan pada kerusakan sel-sel paren­kim hati, umum­nya mening­kat pada infeksi akut.
d)     Bilirubin – biasanya dua tes bilirubin digunakan ber­samaan (apalagi pada jaun­dice): Bilirubin total meng­ukur semua kadar bilirubin dalam darah; Bilirubin direk untuk meng­ukur ben­tuk yang terkonjugasi.
e)      Albumin – meng­ukur protein yang dibuat oleh hati dan mem­beritahukan apakah hati mem­buat protein ini dalam jum­lah cukup atau tidak.
f)       Protein total – meng­ukur semua protein (ter­masuk albumin) dalam darah, ter­masuk antibodi guna memerangi infeksi.
Ter­gan­tung pada per­tim­bangan dok­ter, beberapa tes tam­bahan mung­kin diper­lukan untuk meleng­kapi seperti GGT (gamma-glutamyl tran­sferase), LDH (lactic acid dehydrogenase) dan PT (prothrom­bine time).
Ada beberapa potensi disfungsi hati di mana tes fungsi hati bisa disarankan untuk dilakukan. Beberapa di antaranya adalah orang yang memiliki riwayat diketahui atau ber­potensi ter­papar virus hepatitis; mereka yang merupakan peminum berat; individu dengan riwayat keluarga men­derita penyakit hati; mereka yang meng­on­sumsi obat yang kadang dapat merusak hati.
Tes fungsi hati juga bisa disarankan pada temuan tanda & gejala penyakit hati, beberapa di antaranya adalah: kelelahan, kelemahan, ber­kurang­nya selera makan, mual, mun­tah, pem­beng­kakan atau nyeri perut, jaun­dice, urine gelap, tinja ber­warna terang, pruritus (gatal-gatal).
Pada dasar­nya tidak ada tes tung­gal yang digunakan untuk menegakkan diag­nosis. Ter­kadang beberapa kali tes ber­selang diper­lukan untuk menen­tukan jika suatu pola ada dan mem­bantu menen­tukan penyebab kerusakan hati. Pun ketika penyakit hati sudah dideteksi, tes fungsi hati biasanya tetap ber­lan­jut secara ber­kala untuk meman­tau ting­kat keber­hasilan ter­api atau per­jalanan penyakit.
E.     Manfaat Test Fungsi Hati
Hasil tes fungsi hati bukanlah sebuah media diag­nos­tik untuk kon­disi spesifik; mereka meng­in­dikasikan bahwa ter­dapat kemung­kinan ada suatu masalah pada hati. Pada orang yang tidak mem­per­lihatkan gejala atau tidak ter­in­den­tifikasi adanya fak­tor risiko, hasil tes fungsi hati yang abnor­mal bisa meng­in­dikasikan adanya per­lukaan hati semen­tara atau sesuatu yang ter­jadi di lokasi lain di dalam tubuh – seperti pada otot, pank­reas atau jan­tung. Namun juga bisa menan­dakan penyakit hati tahap awal dan memer­lukan tes lebih lan­jut dan/atau peman­tauan secara berkala.
Hasil-hasil tes fungsi hati biasanya dievaluasi secara bersama-sama. Jadi beberapa set tes dalam per­iode ter­tentu dilihat apakah memiliki pola ter­tentu. Setiap orang akan memiliki sebuah set tes fungsi hati yang unik yang biasanya berubah-ubah seiring ber­jalan­nya waktu. Seorang dok­ter meng­amati kom­binasi hasil-hasil tes ini guna men­dapatkan petun­juk ten­tang kon­disi yang men­dasarinya. Sering­kali, tes lebih lan­jut diper­lukan untuk menen­tukan apa sebenar­nya yang menyebabkan penyakit dan/atau kerusakan hati tersebut.
Tabel ber­ikut menun­jukkan beberapa kom­binasi hasil yang mung­kin ditemukan pada beberapa tipe kondisi/penyakit hati tertentu.
Jenis Kon­disi
Bilirubin
ALT &  AST
ALP
Albumin
PT
Kerusakan hati akut (infeksi, racun, obat)
Nor­mal atau mening­kat biasanya setelah pening­katan ALT & AST
Biasanya sangat mening­kat; ALT umum­nya lebih tinggi daripada AST
Nor­mal atau hanya mening­kat sedikit
Nor­mal
Biasanya nor­mal
Penyakit hati kronis
Nor­mal atau meningkat
Sedikit mening­kat
Nor­mal atau sedikit meningkat
Nor­mal
Nor­mal
Hepatitis alkoholik
Nor­mal atau meningkat
AST biasanya dua kali kadar ALT
Nor­mal atau lumayan meningkat
Nor­mal
Nor­mal
Sirosis
Bisa jadi mening­kat tapi hanya pada kon­disi yang sudah berlanjut
AST biasanya lebih tinggi dari ALT, namun kadar­nya biasanya lebih ren­dah daripada penyakit alkoholik
Nor­mal atau meningkat
Biasanya menurun
Biasanya meman­jang

F.      Pemeriksaan SGOT
SGOT atau juga dinamakan AST (Aspartat aminotransferase) merupakan enzim yang dijumpai dalam otot jantung dan hati, sementara dalam konsentrasi sedang dijumpai pada otot rangka, ginjal dan pankreas. Konsentrasi rendah dijumpai dalam darah, kecuali jika terjadi cedera seluler, kemudian dalam jumlah banyak dilepaskan ke dalam sirkulasi. Pada infark jantung, SGOT/AST akan meningkat setelah 10 jam dan mencapai puncaknya 24-48 jam setelah terjadinya infark. SGOT/AST akan normal kembali setelah 4-6 hari jika tidak terjadi infark tambahan. Kadar SGOT/AST biasanya dibandingkan dengan kadar enzim jantung lainnya, seperti CK (creatin kinase), LDH (lactat dehydrogenase). Pada penyakit hati, kadarnya akan meningkat 10 kali lebih dan akan tetap demikian dalam waktu yang lama.

SGOT/AST serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, semi otomatis menggunakan fotometer, atau secara otomatis menggunakan chemistry analyzer.
Nilai rujukan untuk SGOT/AST adalah :
Laki-laki : 0 – 50 U/L dan Perempuan : 0 – 35 U/L.
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
a.       Injeksi per intra-muscular (IM) dapat meningkatkan kadar SGOT/AST.
b.      Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar SGOT/AST.
c.       Hemolisis sampel darah.
d.      Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (ampisilin, karbenisilin, klindamisin, kloksasilin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, nafsilin, oksasilin, polisilin, tetrasiklin), vitamin (asam folat, piridoksin, vitamin A), narkotika (kodein, morfin, meperidin), antihipertensi (metildopa/aldomet, guanetidin), metramisin, preparat digitalis, kortison, flurazepam (Dalmane), indometasin (Indosin), isoniazid (INH), rifampin, kontrasepsi oral, teofilin. Salisilat dapat menyebabkan kadar serum positif atau negatif yang keliru.



BAB III
METODE KERJA
A.    Alat
Alat – alat yang digunakan, yaitu :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Stopwatch
4.      Mikropipet
5.      Plasma cup
6.      Cuvet
7.      Photometer / Microlab 300 ( semi automatic )

B.     Bahan
Bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum
2.      EDTA
3.      Tissue

C.    Reagensia
Reagensia yang digunakan, yaitu :
1.      Reagen 1 :     Tris pH = 7,8
L-aspartat
MDH
LDH
2.      Reagen 2 : 2-oxoglutarat
         Piridoxal-5-phosphat pH = 9,6
          Good’s buffer

D.    Prosedur Kerja
1.      Dengan menggunakan Photometer/ Mikrolab 300 :
a.       Pembuatan monoreagent :
Reagen 1 :  Reagen 2
      4       :      1
800 µl      :   200 µl
b.      Pipetkan ke dalam tabung reaksi :
a)      Reagent start
Monoreagent
Tabung
Reagen 1
800 µl
Reagen 2
200 µl
Campur selama ± 1 menit

b)      Sample/ substrat start
Tabung
Suhu 250C, 300C
370C
Sampel
200 µl
100 µl
Monoreagent     ( R1 + R2 )
1000 µl
1000 µl
Campur, inkubasi 1 menit pada suhu yang ditentukan.
Ukurlah kenaikan absorbansi setiap menit selama 3 menit, dan hitunglah nilai rata-rata per menit (∆A/menit)

c.       Nilai Normal :
Jenis Kelamin
25oC
30oC
37oC
Pria
< 18
< 25
< 37
Wanita
< 15
< 21
< 37















BAB V
DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.    Data Pengamatan
Nama pasien      : Sri Oktaviani
Umur                 : 20 tahun
Jenis Kelamin   : Perempuan
Hasil                  : 15 µ/L

Probandus :





B.     Pembahasan
Kondisi yang meningkatkan kadar SGOT/AST :
1.      Peningkatan tinggi ( > 5 kali nilai normal ) : kerusakan hepatoseluler akut, infark miokard, kolaps sirkulasi, pankreatitis akut, mononukleosis infeksiosa.
2.      Peningkatan sedang ( 3-5 kali nilai normal ) : obstruksi saluran empedu, aritmia jantung, gagal jantung kongestif, tumor hati (metastasis atau primer), distrophia muscularis.
3.      Peningkatan ringan ( sampai 3 kali normal ) : perikarditis, sirosis, infark paru, delirium tremeus, cerebrovascular accident (CVA)

Dari hasil pemeriksaan SGOT/AST, diperoleh kadar SGOT/AST pasien adalah 15 µ/L, berarti kadar tersebut masih masuk dalam range normal.




















BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
Kadar SGOT/AST pasien dalam darah adalah normal.

B.     Saran
Saran – saran yang dapat diberikan, yaitu :
1.      Pada saat pemipetan sampel atau reagen, usahakan tidak boleh ada gelembung, karena dapat mempengaruhi pembacaan hasil pemeriksaan.
2.      Gunakan ADP (Alat Pelindung Diri) dengan baik dan benar.
3.      Perhatikan kebersihan alat, bahan, dan reagen yang digunakan, agar mengurangi resiko kontaminasi.







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

    Hepatitis adalah penyakit peradangan atau gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh suatu infeksi atau keracunan. Salah satu gejala yang mudah terlihat pada penderita gangguan fungsi hati adalah kulit dan selaput putih mata yang mungkin akan berubah warna menjadi kuning, sehingga sering disebut oleh masyarakat sebagai penyakit kuning. Warna kuning ini timbul disebabkan oleh cairan empedu yang sudah sangat berlebihan kadarnya di dalam darah.
Hepatitis dapat disebabkan oleh keracunan obat atau berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, serta berbagai organisme termasuk kuman dan virus. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati itu sendiri mungkin rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain.
Kuman-kuman yang masuk ke dalam tubuh juga dapat menimbulkan penyakit hepatitis. Kuman ini masuk ke dalam tubuh dengan perantara makanan atau air yang tercemar. Di dalam alat-alat pencernaan, kuman tersebut berkembang biak dengan cepat. Kemudian, beberapa parasit ini diangkut melalui aliran darah ke dalam hati, dimana mereka tinggal di dalam kapiler-kapiler darah hati dan menyerang jaringan-jaringan di dekatnya sehingga menimbulkan radang hati.
Untuk mengetahui apakah seseorang menderita penyakit hepatitis atau tidak, maka seorang dokter disamping mencari informasi mengenai perjalanan penyakit yang dialami, melakukan pemeriksaan fisik secara teliti juga memerlukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk membantu dalam melakukan diagnosa, antara lain pemeriksaan biokimia/enzimatik, imunologi, dan pencitraan.
Salah satu jenis pemeriksaan yang sering dilakukan untuk mengetahui adanya kerusakan pada hati adalah pemeriksaan enzimatik. Enzim adalah protein yang dihasilkan oleh sel hidup dan umumnya terdapat di dalam sel. Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan antara pembentukan enzim dengan penghancurannya. Apabila terjadi kerusakan sel atau peningkatan permeabilitas membran sel, enzim akan banyak keluar ke ruang ekstra sel dan ke dalam aliran darah sehingga dapat digunakan sebagai sarana untuk membantu diagnostik penyakit tertentu. Pemeriksaan enzim yang biasa dilakukan untuk diagnosa hepatitis antara lain:
1.    Enzim yang berhubungan dengan kerusakan sel hati yaitu SGOT,              SGPT, GLDH, dan LDH
2.    Enzim yang berhubungan dengan penanda adanya sumbatan pada kantung empedu (kolestasis) seperti gamma GT dan fosfatase alkali.
3.    Enzim yang berhubungan dengan kapasitas pembentukan (sintesis) hati misalnya kolinestrase.
Secara laboratoris pemeriksaan enzim hati pada hepatitis akut didapati adanya peninggian SGOT dan SGPT sampai 20-50 kali normal dengan SGPT lebih tinggi dari SGOT (SGOT/SGPT < 0,7). Selain itu gamma-GT lebih kecil dari SGOT. Albumin dan Globulin dalam batas kadar normal. Fosfatase alkali dapat meninggi bila terjadi gejala kolestasis (penyumbatan kantung empedu). Pada hepatitis kronis, dari pemeriksaan laboratoris didapati adanya peningkatan kadar enzim SGPT 5-10 kali lebih tinggi dari kadar normal, dan ratio albumin-globulin terbalik.
Untuk menentukan pengobatan yang akan dilakukan, maka perlu diketahui jenis virus yang diduga sebagai penyebab infeksi hati dengan pemeriksaan seroimunologi. Bila pemeriksaan seroimunologis negatif maka perlu dipikirkan penyebab hepatitis lain selain virus, misalnya penyakit hepatitis karena keracunan obat atau zat-zat kimia yang berbahaya.
B.     Tujuan
1.      Diagnosis dan evaluasi penyakit hati, enzim ini merupakan indikar kerusakan sel hati
2.      Memantau efek obat yang hepatotoksik
3.      Membedakan ikterus hemolitik dengan ikterus penyakit hati.
C.     Manfaat
Untuk mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi hati.
D.    Prinsip
Metode kinetik degan menggunakan sinar UV menurut IFCC (international Federation of clinica chemistry).
L – alanin + L – ketoglutamat → pyrupate + L – glutamat pyrupate + NaDH2  yang memiliki absorban 340 nm.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tes Fungsi Hati
Tes fungsi hati yaitu meng­ukur enzim, protein dan unsur yang dihasilkan atau dilepaskan oleh hati dan dipengaruhi oleh kerusakan hati. Beberapa dihasilkan oleh sel-sel hati yang rusak dan beberapa men­cer­minkan kemam­puan hati yang menurun dalam melakukan satu atau beberapa fung­sinya. Ketika dilakukan ber­samaan, tes ini mem­berikan dok­ter gam­baran kon­disi kesehatan hati, suatu indikasi keparahan akan kerusakan hati, per­ubahan status hati dalam selang waktu ter­tentu, dan merupakan batu lon­catan untuk tes diag­nosis selanjutnya.
Tes ini biasanya ber­isi beberapa tes yang dilakukan ber­samaan pada con­toh darah yang diam­bil. Ini bisa meliputi:
a)      Alanine Aminotran­sferase (ALT)  — suatu enzim yang utamanya ditemukan di hati, paling baik untuk memeriksa hepatitis. Dulu disebut seba­gai SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Tran­saminase). Enzim ini ber­ada di dalam sel hati/hepatosit. Jika sel rusak, maka enzim ini akan dilepaskan ke dalam aliran darah.
b)      Alkaline Phos­phatase (ALP) – suatu enzim yang ter­kait dengan saluran empedu; sering­kali mening­kat jika ter­jadi sumbatan.
c)      Aspar­tate Aminotran­sferase (AST) – enzim ditemukan di hati dan di beberapa tem­pat lain di tubuh seperti jan­tung dan otot. Dulu disebut seba­gai SGOT (Serum Glutamic Oxoloacetic Tran­saminase), dilepaskan pada kerusakan sel-sel paren­kim hati, umum­nya mening­kat pada infeksi akut.
d)     Bilirubin – biasanya dua tes bilirubin digunakan ber­samaan (apalagi pada jaun­dice): Bilirubin total meng­ukur semua kadar bilirubin dalam darah; Bilirubin direk untuk meng­ukur ben­tuk yang terkonjugasi.
e)      Albumin – meng­ukur protein yang dibuat oleh hati dan mem­beritahukan apakah hati mem­buat protein ini dalam jum­lah cukup atau tidak.
f)       Protein total – meng­ukur semua protein (ter­masuk albumin) dalam darah, ter­masuk antibodi guna memerangi infeksi.
Ter­gan­tung pada per­tim­bangan dok­ter, beberapa tes tam­bahan mung­kin diper­lukan untuk meleng­kapi seperti GGT (gamma-glutamyl tran­sferase), LDH (lactic acid dehydrogenase) dan PT (prothrom­bine time).
Ada beberapa potensi disfungsi hati di mana tes fungsi hati bisa disarankan untuk dilakukan. Beberapa di antaranya adalah orang yang memiliki riwayat diketahui atau ber­potensi ter­papar virus hepatitis; mereka yang merupakan peminum berat; individu dengan riwayat keluarga men­derita penyakit hati; mereka yang meng­on­sumsi obat yang kadang dapat merusak hati.
Tes fungsi hati juga bisa disarankan pada temuan tanda & gejala penyakit hati, beberapa di antaranya adalah: kelelahan, kelemahan, ber­kurang­nya selera makan, mual, mun­tah, pem­beng­kakan atau nyeri perut, jaun­dice, urine gelap, tinja ber­warna terang, pruritus (gatal-gatal).
Pada dasar­nya tidak ada tes tung­gal yang digunakan untuk menegakkan diag­nosis. Ter­kadang beberapa kali tes ber­selang diper­lukan untuk menen­tukan jika suatu pola ada dan mem­bantu menen­tukan penyebab kerusakan hati. Pun ketika penyakit hati sudah dideteksi, tes fungsi hati biasanya tetap ber­lan­jut secara ber­kala untuk meman­tau ting­kat keber­hasilan ter­api atau per­jalanan penyakit.
B.     Manfaat Test Fungsi Hati
Hasil tes fungsi hati bukanlah sebuah media diag­nos­tik untuk kon­disi spesifik; mereka meng­in­dikasikan bahwa ter­dapat kemung­kinan ada suatu masalah pada hati. Pada orang yang tidak mem­per­lihatkan gejala atau tidak ter­in­den­tifikasi adanya fak­tor risiko, hasil tes fungsi hati yang abnor­mal bisa meng­in­dikasikan adanya per­lukaan hati semen­tara atau sesuatu yang ter­jadi di lokasi lain di dalam tubuh – seperti pada otot, pank­reas atau jan­tung. Namun juga bisa menan­dakan penyakit hati tahap awal dan memer­lukan tes lebih lan­jut dan/atau peman­tauan secara berkala.
Hasil-hasil tes fungsi hati biasanya dievaluasi secara bersama-sama. Jadi beberapa set tes dalam per­iode ter­tentu dilihat apakah memiliki pola ter­tentu. Setiap orang akan memiliki sebuah set tes fungsi hati yang unik yang biasanya berubah-ubah seiring ber­jalan­nya waktu. Seorang dok­ter meng­amati kom­binasi hasil-hasil tes ini guna men­dapatkan petun­juk ten­tang kon­disi yang men­dasarinya. Sering­kali, tes lebih lan­jut diper­lukan untuk menen­tukan apa sebenar­nya yang menyebabkan penyakit dan/atau kerusakan hati tersebut.
C.     Pemeriksaan SGPT
SGPT atau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya. SGPT/ALT serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, secara semi otomatis atau otomatis.



Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
  1. Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar
  2. Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena dapat meningkatkan kadar
  3. Hemolisis sampel
  4. Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (klindamisin, karbenisilin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, mitramisin, spektinomisin, tetrasiklin), narkotika (meperidin/demerol, morfin, kodein), antihipertensi (metildopa, guanetidin), preparat digitalis, indometasin (Indosin), salisilat, rifampin, flurazepam (Dalmane), propanolol (Inderal), kontrasepsi oral (progestin-estrogen), lead, heparin.
  5. Aspirin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar.









BAB III
METODE KERJA

A.    Alat
Alat – alat yang digunakan, yaitu :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Stopwatch
4.      Mikropipet
5.      Plasma cup
6.      Cuvet
7.      Photometer / Microlab 300 ( semi automatic )

B.     Bahan
Bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum
2.      EDTA
3.      Tissue

C.    Reagensia
Reagensia yang digunakan, yaitu :
1.      Reagen 1 :     TRIS ( pH 7,5 )                      140 mmol/L
L.Alanine                                709 mmol/L
LDH                                        ≥ 1700 u/l
Sodium azide                          < 1 gr/L
2.      Reagen 2 :     2 – oxoglutarat                        85 mmol/L
NaDH                                     1.09 mmol/L
Sodium azide                          < 1 gr/L
( campur reagen dengan perbandingan 1 : 4 sabil 4 minggu suhu    2 – 8 0 C )
D.    Prosedur Kerja
1.      Dengan menggunakan Photometer/ Mikrolab 300 :
a.       Pembuatan monoreagent :
Reagen 1     :  Reagen 2
      4           :      1
    800 µl      :   200 µl
b.      Pipetkan ke dalam tabung reaksi :
a)      Reagent Start
Monoreagent
Tabung
Reagen 1
8 00 µl
Reagen 2
200 µl
Campur selama ± 1 menit




b)      Sample Start
Tabung
Suhu 250C, 300C
370C
Sampel
200 µl
100 µl
Monoreagen      ( R1 + R2 )
1.000 µl
1.000 µl
Campur, inkubasi 5 menit pada suhu yang ditentukan.
Ukurlah kenaikan absorbansi setiap menit selama 3 menit, dan hitunglah nilai rata-rata per menit (∆A/menit)


c.       Nilai Normal :
Laki – laki          : 0,00 – 42,00 IU/L
Perempuan         : 0,00 – 32,00 IU/L










BAB V
DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.    Data Pengamatan
Probandus :
Nama pasien      : Sri Oktaviani
Umur                : 20 tahun
Jenis Kelamin    : Perempuan
Hasil ALT/ SPT : 9 µl





B.     Pembahasan
Dari hasil pemeriksaan ,kadar  SGPT yang di peroleh yaitu 12,07 U/L. Kadar ini adalah normal untuk kategori wanita normalnya 0,00 – 31,0 U/L. Kondisi yang meningkatkan kadar SGPT/ALT adalah :
1.      Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati (toksisitas obat atau kimia).
2.      Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatan empedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard (SGOT>SGPT).
3.      Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosis biliaris.

BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
Kadar SGPT/ALT pasien dalam darah adalah normal.

B.     Saran
Saran – saran yang dapat diberikan, yaitu :
1.      Pada saat pemipetan sampel atau reagen, usahakan tidak boleh ada gelembung, karena dapat mempengaruhi pembacaan hasil pemeriksaan.
2.      Gunakan ADP (Alat Pelindung Diri) dengan baik dan benar.
3.      Perhatikan kebersihan alat, bahan, dan reagen yang digunakan, agar mengurangi resiko kontaminasi.







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Hiperurisemia merupakan keadaan meningkatnya asam urat dalam darah akibat gangguan metabolisme purin. Nukleotida ini bukan merupakan protein esensial karena lima puluh persen lebih purin berasal dari metabolisme tubuh sendiri. Sebagai bagian dari materi genetik (DNA dan RNA), purin terdiri atas guanin dan adenin. Salah satu produk limbah purin pada manusia adalah asam urat yang sulit larut dalam urin (garam urat lebih larut daripada asam urat). Dalam urin dengan pH 5, hanya 10% asam urat yang larut jika dibandingkan dalam urin dengan pH 7. Padahal urin kita pada umumnya memiliki pH sekitar 5,8 (Biokimia Harper).
Sebenarnya produk nitrogenus hasil metabolisme purin diekskresikan lewat 3 bentuk: (1) NH3, (2) urea dan (3) senyawa urat.. Manusia dan hewan lainnya akan mengekskresikan dalam bentuk urea (ureotelik) dan senyawa urat (urikotelik). Hanya saja, manusia, burung, amfibi dan reptil tidak memiliki enzim urikase yang dapat mengubah asam urat menjadi senyawa yang mudah larut, yaitu alantoin, sehingga terdapat depot asam urat dalam tubuh. Pada laki-laki, depot asam urat berkisar 1200 mg sedang pada wanita, sekitar 600 mg. Pasien penyakit gout tanpa tofus memiliki depot asam urat sekitar 2 gm hingga 4 gm, sedangkan pasien dengan tofus bisa mengandung depot asam urat sampai sebesar 30 gram. Nukleotida lainnya, pirimidin (sitosin, timidin, uridin), jarang menimbulkan permasalahan kesehatan karena produk limbahnya bersifat larut dalam urin.
Hiperurisemia pada manusia dapat bermanifestasi sebagai penyakit pirai (penyakit gout) yang dapat berupa inflamasi sendi (artritis gout), pembentukan tofus (endapan asam urat) dalam tulang dan tulang rawan (misalnya, pada daun telinga), atau batu kemih (urolitiasis urat). Penumpukan asam urat dalam jaringan kerangka (muskuloskeletal) dapat menimbulkan cacat (deformitas), sedangkan batu kemih bisa mengakibatkan gagal ginjal.
B.     Tujuan
      Untuk mengetahui kadar asam urat dalam darah.
C.     Manfaat
1.      Untuk mendeteksi adanya kelainan pada fungsi ginjal.
2.      Untuk mendiagnosa penyakit batu ginjal
D.    Prinsip
Larutan asam pikrat ditambahkan, akan bereaksi sehingga membentuk warna kuning kemudian dibaca pada photometer.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Asam urat merupakan hasil akhir dari metabolisme purine dan beredar dalam plasma sebagai Na-urat yang dibuang melalui ginjal berasal juga dari penguraian asam nukleat dan sel-sel jaringan yang rusak. Sangat berbahaya bila pengendapan dari asam ini karena ion-ion (H+) dalam jaringan akan meningkat. Makana yang banyak mengandung asam urat misalnya: daging, jeroan, ikan sarden, daging kaleng (cornet beaf) udang, cumi-cumi, kepiting. Untuk menghindari pengendapan asam urat di dalam ginjal, berpantanglah makanan-makanan diatas.
Penyakit asam urat memang sangat erat kaitannya dengan pola makan seseorang. Pola makan yang tidak seimbang dengan jumlah protein yang sangat tinggi merupakan penyebab penyakit ini. Meskipun demikian, bukan berarti penderita asam urat tidak boleh mengkonsumsi makanan yang mengandung protein. Asalkan jumlahnya dibatasi, ya tidak masalah. Selain itu, pengaturan diet yang tepat bagi penderita asam urat mampu mengontrol kadar asam dan urat dalam darah. Penderita asam urat tinggi, memang harus hati-hati terhadap makanan. Diet yang dilakukan, harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1.      Pembatasan purin
Apabila telah terjadi pembengkakan sendi maka penderita gangguan asam urat harus melakukan diet bebas purin. Namun karena hampir semua bahan makanan sumber protein mengandung nukleoprotein maka hal ini hampir tidak mungkin dilakukan. Maka yang harus dilakukan adalah membatasi asupan purin menjadi 100-150 mg purin per hari (diet normal biasanya mengandung 600-1.000 mg purin per hari).
2.      Kalori sesuai kebutuhan
Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat yang kelebihan berat badan, berat badannya harus diturunkannn dengan tetap memperhatikan jumlah konsumsi kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bisa meningkatkan kadar asam urat karena adanya keton bodies yang akan mengurangi pengeluaran asam urat melalui urin.
3.      Tinggi karbohidrat
Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat baik dikonsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan pengeluaran asam urat melalui urin. Konsumsi karbohidrat kompleks ini sebaiknya tidak kurang dari 100 gram per hari.
4.      Rendah protein
Protein terutama yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Sumber makanan yang mengandung protein hewani dalam jumlah yang tinggi, misalnya hati, ginjal, otak, paru dan limpa. Asupan protein yang dianjurkan bagi penderita gangguan asam urat adalah sebesar 50-70 gram/hari atau 0,8-1 gram/kg berat badan/hari. Sumber protein yang disarankan adalah protein nabati yang berasal dari susu, keju dan telur.
5.      Rendah lemak
Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Makanan yang digoreng, bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya sebanyak 15 persen dari total kalori.
6.      Tinggi cairan
Konsumsi cairan yang tinggi dapat membantu membuang asam urat melalui urin. Karena itu, Anda disarankan untuk menghabiskan minum minimal sebanyak 2,5 liter atau 10 gelas sehari. Air minum ini bisa berupa air putih masak, teh, atau kopi. Selain dari minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar yang mengandung banyak air. Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon, blewah, nanas, belimbing manis, dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan yang lain juga boleh dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit mengandung purin. Buah-buahan yang sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian, karena keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.


7.      Tanpa Alkohol
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang mengonsumsi alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. Hal ini adalah karena alkohol akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh.
Ciri – ciri Asam Urat
Berdasarkan subkomite The American Rheumatism Association yang menetapkan kriteria diagnostik untuk asam urat adalah:
a.       Adanya kristal urat yang khas dalam cairan sendi.
b.      Thopus terbukti mengandung kristal urat berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan mikroskopik dengan sinar terpolarisasi.
c.       Lebih dari sekali mengalami serangan arthritis akut
d.      Terjadi peradangan secara maksimal dalam satu hari
e.       Oligoarthritis (jumlah sendi yang meradang kurang dari 4 )
f.       Kemerahan di sekitar sendi yang meradang
g.      Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau membengkak
h.      Serangan unilateral (satu sisi) pada sendi metatarsophalangeal pertama
i.        Serangan unilateral pada sendi tarsal (jari kaki)
j.        Tophus (deposit besar dan tidak teratur dari natrium urat) di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula sendi
k.      Hiperuricemia (kadar asam urat dalam darah lebih dari 7,5 mg/dL)
l.        Pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja)
m.    Serangan arthritis akut berhenti secara menyeluruh.
Ketika terjadi serangan arthritis akut, penderita diberikan terapi untuk mengurangi peradangannya. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan obat analgesik/NSAID, kortikosteroid, tirah baring, atau dengan pemberian kolkisin.
Setelah serangan akut berakhir, terapi ditujukan untuk menurunkan kadar asam urat dalam tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan kolkisin atau obat yang memacu pembuangan asam urat lewat ginjal (misal probenesid) atau obat yang menghambat pembentukan asam urat (misal allopurinol).







BAB III
METODE KERJA


A.    Alat
Alat – alat yang digunakan, yaitu :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Stopwatch
4.      Mikropipet
5.      Plasma cup
6.      Cuvet
7.      Photometer / Microlab 300 ( semi automatic )

B.     Bahan
Bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum
2.      EDTA
3.      Tissue




C.    Reagensia
Reagensia yang digunakan, yaitu :
1.      R1 : Monoreagen
2.      R2 : Standar Uric Acid Konsentrasi standar

D.    Prosedur Kerja
1.      Dengan menggunakan Photometer/ mikrolab 300:
a.       Pipet ke tabung :
Tabung
R1
R2
Sampel
Tabung I
1000 µl
10 µl

Tabung II
1000 µl

10 µl

b.      Baca pada mikrolab 300 yang telah terprogram
c.       Catat hasilnya.

Nilai Normal :
Laki – laki          =  3,36 – 7,06  mg/dl
Perempuan         =  2,52 – 6,05  mg/dl
Anak – anak       =  2,50 – 5,50  mg/dl




BAB V
DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.    Data Pengamatan

Nama pasien     : I Putu Jacky Setiawan
Umur                : 30 tahun
Jenis Kelamin   : laki-laki
Hasil                  : 6,51 mg/d

           Probandus :




B.     Pembahasan
Asam urat sukar larut dan diekskresi dalam urine, larut dalam air banyak. Bila kadar asam urat plasma sama tinggi ( hiperurikemia ), asam urat dapat menyebar dalam jarigan dalam bentuk kristal natrium urat. Pada pengambilan kristal, makrofag menimbulkan respon peradangan yang mengakibatkan syndroma yang dikenal dengan nama Gout. Hiperurisemia, pada banyak kasus disebabkan oleh percepatan pembentukkan asam urat sekunder akibat degradasi purin yang jumlahnya sangat banyak.
Berdasarkan hasil pemeriksaan asam urat dalam serum pasien, kadar asam urat pasien dikatakan tidak normal. Pasien diindikasikan mengalami gangguan fungsi ginjal yaitu hiperurisemia. Pada hiperurisemia, kadar urat serum melebihi batas kelarutannya. Kristalisasi natrium urat yang terjadi di dalam jaringan lunak dan persendian akan membentuk endapan yang dinamakan tofus. Proses ini menyebabkan suatu reaksi peradangan akut, yaitu Arthtritis Gout akut, yang dapat berlanjut menjadi Arthritis Gout kronis.













BAB V
PENUTUP

A.    Simpulan
Kadar Asam Urat dalam serum pasien adalah normal.

B.     Saran
Saran – saran yang dapat diberikan, yaitu :
1.      Pada saat pemipetan sampel atau reagen, usahakan tidak boleh ada gelembung, karena dapat mempengaruhi pembacaan hasil pemeriksaan.
2.      Gunakan ADP (Alat Pelindung Diri) dengan baik dan benar.
3.      Perhatikan kebersihan alat, bahan, dan reagen yang digunakan, agar mengurangi resiko kontaminasi.





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Gangguan fungsi hati sangat beragam. Agar berhasil dalam pengobatan, seorang dokter harus pandai mendiagnosis. Mulai dari mengetahui riwayat penyakit pasiem, mencari tanda penyakit hati kronis, hingga penyakit lain penyebab gangguan faal hati. Penderita gangguan hati sering memperlihatkan hasil laboratorium kepada dokter. Berdasarkan catatan laboratorium yang menunjukan adanya gangguan fungsi hati itu, mereka meminta kepada dokter pendapat dan metode pengobatannya.
Perlu diingat, kelainan faal hati juga sering dijumpai pada penyakit lain diluar penyakit hati. Misalnya, penyakit kelenjar thyroid, payah jantung, dan payah ginjal. Masing-masing tes terhadap penyakit tersebut biasanya juga menunjukan faal hati yang terganggu. Oleh karena itu kita memerlukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk memberikan konklusi dari hasil laboratorium.


Fungsi Hati
Hati merupakan organ padat terbesar yang terletak di rongga perut bagian kanan atas. Organ ini sangat penting karena memiliki berbagai fungsi. Seperti sebagai regulator dari semua metabolisme (karbohidrat, protein dan lemak, tempat sintesis dari berbagai komponen (protein, pembekuan darah, kolesterol, ureum, dan zat lainnya yang sangat vital. Selain itu hati juga merupakan tempat pembentukan dan penyaluran asam empedu, pusat pendetoksifikasi racun, dan tempat penghancuran (degradasi) hormon-hormon steroid (estrogen). Pada jaringan hati terdapat sel-sel kupfer. Sel ini sangat penting dalam eliminasi organisme asing, baik bakteri maupun virus. Oleh karena itu untuk memperlihatkan adanya gangguan fungsi hati itu. Dokter perlu mengetahui, semua tes kesehatan selalu mempunyai sensitivitas, dan spesifisitas yang berlainan. Sehingga untuk interpretasi hasil tersebut kita harus mengenal tes tersebut, bagaimana sensitivitas, dan bagaimana spesifitasnya.
Gangguan Faal Hati
Secara umum terdapat dua jenis/macam gangguan faal hati yaitu :
1.      Akibat peradangan umum atau peradangan khusus di hati. Kondisi ini menimbulkan kerusakan jaringan/sel hati.
2.      Akibat tersumbatnya saluran empedu.
Hati sendiri mempunyai fungsi ganda yakni mengambil kolesterol dan sirkulasi darah dan memproduksi kembali kolesterol bila keadaan memungkinkan. Setelah makan, hati akan menyaring kilomikron yang berada di sirkulasi darah, lalu diantara waktu makan, hati akan mengeluarkan kembali kolesterol yang diserap tersebut kembali ke peredaran darah. Disini hati memegang peranan dalam menjaga keseimbangan kolesterol yang berada dalam sirkulasi darah manusia.
Hati, selain memproduksi kolesterol LDL dan masuk ke sirkulasi darah, juga menyaring kolesterol yang beredar di dalam darah seperti dijelaskan diatas. Semakin banyak reseptor kolesterol LDL yang terdapat dalam hati maka semakin tinggi tingkat penyaringan yang dilakukan, hal ini akan berimbas pada semakin rendahnya kadar kolesterol LDL dalam darah. Kekurangan reseptor kolesterol LDL dalam hati akan meningkatkan secara signifikan kadar kolesterol LDL dalam darah.
Pentingnya Pemeriksaan Kolesterol
Bagi mereka yang ingin mengetahui kadar kolesterol dalam tubuhanya maka mereka dapat melakukan tes pemeriksaan kadar kolesterol darah. Pemeriksaan ini akan menghasilkan data perkiraan kadar kolesterol yang beredar dalam sirkulasi darah. Selain untuk mengobati keingintahuan, tes ini rutin dilakukan seorang dokter guna memantau pengobatan kolesterol pasien. Selain di laboratorium, pemeriksaan kolesterol bisa dilakukan di rumah dengan alat periksa yang banyak dijual di apotek besar. Akhir-akhir ini mulai banyak yang sadar akan pentingnya menjaga kadar kolesterol dalam darah. Hal ini sangat penting guna menurunkan angka kesakitan akibat penyakit jantung dan pernbuluh darah.  Penyakit jantung sudah menjadi penyakit yang umum saat ini. Penyakit ini bisa rnenyerang siapa saja terutama bagi mereka yang telah berusia diatas 50 tahun. Pada usia ini jantung bekerja lebih berat akibat peningkatan tekanan pada pembuluh darah tepi. Peningkatan tekanan darah tepi paling sering disebabkan oleh penumpukan plak kolesterol pada dinding pembuluh darah. Maka dan itu, pada usia diatas 50 tahun, wajib hukumnya untuk selalu memonitor kadar kolesterol dalam darah.
B.     Tujuan
Untuk mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi hati akibat kolesterol
C.    Manfaat
Untuk diagnosa adanya kelainan pada fungsi hati dalam mensintesis kolesterol.  
D.    Prinsip
Kolesterol dan ester-ester dibebaskan dari hipoprotein oleh detergen kolesterol esterase kolesterol. Proses oksidasi enzimatik oleh kolesterol oksidasi H2O2 bereaksi dengan 4 amino antiphyrin dan phenol dalam suatu rteaksi dikatalisa oleh peroksidase dan terbentuk quineunin yang berwarna.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kolesterol adalah zat lemak yang sangat penting dalam pembentukan dinding sel pada tubuh manusia dan hewan. Kolesterol juga ditemukan beredar dalam sirkulasi darah manusia. Kolesterol yang terdapat dalam tubuh manusia berasal dan dua sumber utama yaitu dari makanan yang dikonsumsi dan dan pembentukan oleh hati. Kolesterol yang berasal dan makanan terutama terdapat pada daging, unggas, ikan dan produk olahan susu. Jeroan daging seperti hati sangat tinggi kandungan kolesterolnya, sedangkan makanan yang berasal dan tumbuhan justru tidak mengandung kolesterol sama sekali. Setelah makan, kolesterol akan diserap oleh usus halus untuk selanjutnya masuk ke sirkulasi darah dan disimpan dalam suatu mantel protein. Mantel protein-kolesterol ini kemudian dikenal dengan nama kilomikron.

Hati sendiri mempunyai fungsi ganda yakni mengambil kolesterol dan sirkulasi darah dan memproduksi kembali kolesterol bila keadaan memungkinkan. Setelah makan, hati akan menyaring kilomikron yang berada di sirkulasi darah, lalu diantara waktu makan, hati akan mengeluarkan kembali kolesterol yang diserap tersebut kembali ke peredaran darah. Disini hati memegang peranan dalam menjaga keseimbangan kolesterol yang berada dalam sirkulasi darah manusia.


Kolesterol LDL dan HDL
Kolesterol LDL sering disebut dengan kolesterol ‘jahat’, karena peningkatan kadar kolesterol dalam darah dihubungkan dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner. Kolesterol LDL akan berakumulasi di dinding arteri sehingga membentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit. Proses ini dikenal dengan nama atherosklerosis.
Kolesterol HDL sebaliknya sering disebut dengan kolesterol ‘baik’ karena kolesterol HDL mencegah terjadinya atherosklerosis dengan cara mengeluarkan kolesterol ‘jahat’ dan dinding arteri dan mengirimkannya ke hati. Jadi, bila kadar kolesterol LDL tinggi sedangkan kadar kolesterol HDL rendah maka merupakan faktor resiko terjadinya atherosklerosis. Sebaliknya yang diharapkan adalah kadar kolesterol LDL rendah dan kadar kolesterol HDL yang tinggi.
Hati, selain memproduksi kolesterol LDL dan masuk ke sirkulasi darah, juga menyaring kolesterol yang beredar di dalam darah seperti dijelaskan diatas. Semakin banyak reseptor kolesterol LDL yang terdapat dalam hati maka semakin tinggi tingkat penyaringan yang dilakukan, hal ini akan berimbas pada semakin rendahnya kadar kolesterol LDL dalam darah. Kekurangan reseptor kolesterol LDL dalam hati akan meningkatkan secara signifikan kadar kolesterol LDL dalam darah.
Kadar kolesterol baik LDL maupun HDL jugat dipengaruhi oleh faktor herediter atau keturunan. Pada pasien dengan familial hypercholesterolemia (FH), terdapat pengurangan jumlah yang signifikan dan reseptor kolesterol LDL dalam hatinya.Pasien mi juga akan rentan menderita atherosklerosis dan serangan jantung pada usia muda.
Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan kolesterol akan meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. Lemak dibagi menjadi lemak jenuh dan lemak tak jenuh berdasarkan pada struktur kimianya. Lemak jenuh terutama berasal dan daging dan produk olahan susu yang akan meningkatkan kadar kolesterol darah. Beberapa minyak tumbuhan yang dibuat dan buah kelapa, sawit, dan cokelat juga tinggi kadar lemak jenuhnya.
Menurunkan Kadar Kolesterol LDL untuk Mencegah Serangan Jantung dan Stroke
Menurunkan kadar kolesterol LDL saat ini merupakan fokus utama dalam mencegah atherosklerosis dan serangan jantung. Beberapa dokter dan ahli percaya bahwa keuntungan menurunkan kadar kolesterol LDL antara lain:
Mengurangi dan menghentikan pembentukan plak kolesterol pada dinding pembuluh
darah, memperlebar rongga arteri, mencegah pecahnya plak kolesterol yang mempunyai resiko membentuk gumpalan darah/trombus (faktor resiko stroke).

Tips Menurunkan Kadar Kolesterol LDL
1.      Mengubah gaya hidup.
Mengubah gaya hidup adalah hal yang pertama dan utama dilakukan untuk menurunkan kadar kolesterol LDL. Efek dan penurunannya akan dirasakan lebih lama, dan aktivitas pengobatan ini tidak memerlukan biaya mahal. Perubahan gaya hidup itu antara lain, menjaga berat badan agar tidak gemuk, olah raga teratur, selalu mengkonsumsi makanan dengan kadar lemak jenuh dan kolesterol yang rendah.
2.      Menggunakan obat penurun kolesterol.
Pemberian obat penurun kolesterol dilakukan jika dengan mengubah gaya hidup tidak didapatkan hasil yang memuaskan alias kadar kolesterol LDL masih tinggi. Obat yang paling efektif dan sering dipakai untuk menurunkan kadar kolesterol LDL adalah statin. Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa penggunaan statin untuk menurunkan kadar kolesterol LDL mempunyai keuntungan dalam mencegah serangan jantung dan stroke. Obat-obatan lain yang juga sering dipakai adalah asam nikotinik, gemfibrozil, kholestyramine dan zetia.

Kolesterol HDL = Kolesterol Baik
Kolesterol HDL disebut kolesterol baik karena ia berguna untuk mencegah terjadinya atherosklerosis pada arteri/pembuluh darah. Kolesterol HDL akan mengeluarkan partilcel kolesterol dan dinding arteri dan mengirinikarinya ke hati untuk selanjutkan dihancurkan di dalam empedu. HDL juga menganggu proses penumpukan kolesterol LDL pada dinding arteri. Resiko terjadinya atherosklerosis dan serangan jantung juga dipengaruhi oleh kadar kolesterol HDL. Orang akan mempunyai resiko tinggi menderita kedua penyakit itu bila kadar kolesterol HDL dalam darahnya rendah, sebaliknya resiko akan menurun jika kadar kolesterol HDL dalam darahnya tinggi.
Seperti halnya kolesterol LDL, gaya hidup juga berpengaruh pada kadar kolesterol HDL dalam darah disamping faktor-faktor lainnya. Kadar kolesterol HDL akan rendah pada seorang perokok, suka mengkonsumsi makanan manis, gemuk dan jarang olah raga, juga pada pasien dengan diabetes tipe II. Kadar kolesterol HDL akan tinggi pada orang yang kurus, suka berolah raga dengan teratur, dan tidak merokok. Hormon estrogen juga dipercaya dapat meningkatkan kadar kolesterol HDL, itu sebabnya mengapa kadar kolesterol HDL pada wanita lebih tinggi daripada laki-laki.
Jadi kesimpulannya, makin tinggi kadar kolesterol LDL sementara kadar kolesterol HDL-nya rendah maka makin tinggi resiko untuk menderita atheroskierosis dan serangan jantung. Yang diharapkan adalah kadar kolesterol LDL yang rendah dengan kadar HDL kolesterol yang tinggi sehingga resiko terjadinya kedua penyakit tersebut juga akan menurun.
Cara Meningkatkan Kadar Kolesterol HDL
Langkah pertama yang harus dilakukan untuk meningkatkan kadar kolesterol HDL (dan menurunkan rasio LDL/HDL) adalah dengan mengubah pola hidup yang tidak sehat. Jika dengan perubahan perilaku mi peningkatkan kadar kolesterol HDL tidak mencapai apa yang diharapkan, maka baru dipertimbangkan untuk melakukan pengobatan dengan obat obatan. Dalam memberikan obat, dokter akan selalu mempertimbangkan segala hal tentang keadaan atau kondisi pasien termasuk ketidak normalan kadar kolesterolnya. Olah raga secara teratur, penurunan berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, akan meningkatkan kadar kolesterol HDL. Anehnya, beberapa ahli malah menganjurkan mengkonsumsi alkohol dalam jumlah sedikit secara teratur (segelas sehari) untuk meningkatkan kadar kolesterol HDL, meskipun hal ini masih menimbulkan perdebatan karena mekanisme yang belum begitu jelas.
Mungkin karena sebab itulah maka konsumsi alkohol ini tidak dianjurkan sebagai pengobatan rutin untuk meningkatkan kadar kolesterol HDL, disamping ternyata alkohol juga mempunyai banyak efek yang tidak baik bagi tubuh.
Menurunkan Kadar Kolesterol LDL Saja Belum Cukup
Pencegahan dan pengobatan aterosklerosis sangatlah komplek, tidak sekedar menurunkan kadar kolesterol LDL lalu masalah selesai. Pengurangan kadar kolesterol LDL baru merupakan pertengahan jalan untuk memerangi aterosklerosis. Seseorang dengan kadar kolesterol LDL normal atau meningkat sedikit tetap mempunyai kemungkinan untuk mengalami aterosklerosis dan serangan jantung walaupun faktor resiko yang lain seperti merokok, tekanan darah tinggi serta diabetes melitus tidak ada. Kesimpulannya, keberhasilan menurunkan kadar kolesterol LDL tidak serta merta membebaskan pasien dan kemungkinan terkena aterosklerosis dan serangan jantung sehingga dalam melakukan pengobatan iniperlu juga dilihat segala faktor lain yang terlibat di dalamnya. Hal ini menambah kewaspadaan dan para dokter dan pasien untuk menghadapi hal hal yang tidak diinginkan.
Mengetahui Cara Kerja Kolesterol
Kolesterol membantu mengangkut lemak yang sudah diolah dan hati ke seluruh tubuh. Pembuluh darah bertindak sebagai jalan rayanya. Setelah menjalankan fungsi ini, kolesterol kembali ke hati dan mengulang lagi proses tadi. Setelah ditelan, lemak atau makanan yang masuk ke lambung, kemudian ke usus halus untuk dicema dan diserap. Setelah itu, sari-sari makanan dikirim ke hati untuk diproses dan dikirimkan ke seluruh tubuh.
Hati memuat lemak pada VLDL. VLDL ini kemungkinan berjalan melalui pembuluh-pembuluh darah, membongkar muatannya (lemak) di seluruh tubuh. VLDL yang kosong kemudian menjadi LDL. Beberapa potongan LDL dapat tersangkut di sepanjang dinding pembuluh darah, dan dengan demikian mempersempit pembuluh darah.
Peran HDL adalah melepaskan potongan LDL yang tersangkut di dinding pembuluh-pembuluh darah dan mengirimkannya kembali ke hati. Potongan LDL itu kemudian didaur ulang menjadi VLDL baru atau dihancurkan dan dibuang. VLDL yang baru akan memulai kembali proses pengiriman.  Ketika seseorang mengonsumsi lemak secara berlebihan, lebih banyak potongan LDL yang tersangkut di sepanjang dinding pembuluh darah, jika tidak ada cukup HDL untuk melepaskannya. Pembuluh darah kemudian tersumbat, menyebabkan serangan jantung. Idealnya, seseorang harus memiliki Iebih banyak kolesterol HDL dan lebih sedikit kolesterol LDL di dalam tubuh.

Pentingnya Pemeriksaan Kolesterol

Bagi mereka yang ingin mengetahui kadar kolesterol dalam tubuhanya maka mereka dapat melakukan tes pemeriksaan kadar kolesterol darah. Pemeriksaan ini akan menghasilkan data perkiraan kadar kolesterol yang beredar dalam sirkulasi darah. Selain untuk mengobati keingintahuan, tes ini rutin dilakukan seorang dokter guna memantau pengobatan kolesterol pasien. Selain di laboratorium, pemeriksaan kolesterol bisa dilakukan di rumah dengan alat periksa yang banyak dijual di apotek besar. Akhir-akhir ini mulai banyak yang sadar akan pentingnya menjaga kadar kolesterol dalam darah. Hal ini sangat penting guna menurunkan angka kesakitan akibat penyakit jantung dan pernbuluh darah.
Penyakit jantung sudah menjadi penyakit yang umum saat ini. Penyakit ini bisa rnenyerang siapa saja terutama bagi mereka yang telah berusia diatas 50 tahun. Pada usia ini jantung bekerja lebih berat akibat peningkatan tekanan pada pembuluh darah tepi. Peningkatan tekanan darah tepi paling sering disebabkan oleh penumpukan plak kolesterol pada dinding pembuluh darah. Maka dan itu, pada usia diatas 50 tahun, wajib hukumnya untuk selalu memonitor kadar kolesterol dalam darah.
Kolesterol merupakan bahan yang tidak seharusnya beredar dalam sirkulasi darah. Kolesterol masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui makanan yang kita makan. Kolesterol banyak ditemukan dalam daging, telur, dan makanan berlemak lainnya. Jika anda mengkonsumsi makanan ini secara benlebihan maka kadar kolesterol dalam darah juga akan meningkat secara drastis. Disinilah peranan pengaturan gaya bidup guna menekan konsumsi makanan yang banyak mengandung kolesterol. Dengan melihat hasil tes kolesterol, anda akan termotivasi untuk mengubah perilaku anda dalam mengkonsumsi makanan. Anda menjadi sedikit takut menghadapi kenyataan bahwa anda berada dalam kelompok orang yang beresiko menderita penyakit jantung.
Kadar ideal kolesterol dalam darah adalah dibawah 200 mg/dL. Jika anda mempunyai keluarga yang pernah mengalami serang jantung maka sebaiknya target kadar kolesterol juga perlu anda turunkan. Jika perlu, anda harus dapat mencapai kadar dibawah 100 mg/dL. Sementara itu, kadar HDL kolesterol perlu anda jaga antara 40 sampai 60 mg.


BAB III
METODE KERJA

A.    Alat
Alat – alat yang digunakan, yaitu :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Stopwatch
4.      Mikropipet
5.      Plasma cup
6.      Cuvet
7.      Photometer / Microlab 300 ( semi automatic )

B.     Bahan
Bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum
2.      EDTA
3.      Tissue





C.    Reagensia
Reagensia yang digunakan, yaitu :
1.      Regen dialab
Komposisi :
a.       Good’s buffer, pH 7            : 50  mol/L
b.      Phenol                                  : 5    mol/L
c.       4-aminoantipyrin                 : 0,3  mol/L
d.      Cholestrol esterase              :  > 200 U/L
e.       Colestrol oksidase                : > 50 U/L
f.       Peroxidase                            : 3 U/L

D.    Prosedur Kerja
1.      Dengan menggunakan Mikrolab 300 :
a.       Pipet ke dalam tabung :
Bahan
Blanko
Standar
Test
Reagent 
1.000 µl
1.000 µl
1.000 µl
Sampel
-
10 µl
10 µl
Campur, inkubasi 10 menit pada suhu 370C.
Baca hasil pada mikrolab 300








Nilai Normal :
220 mg/dL
BAB V
DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.    Data Pengamatan
Nama pasien     : I Putu Jacky Setiawan
Umur                : 30 tahun
Jenis Kelamin   : laki-laki
Hasil                 : 131 mg/dL







B.     Pembahasan
Pada pemeriksaan serum sampel pasien ini telah didapat hasil 131 mg/dl, jika dibandingkan dengan nilai normalnya pasien ini dinyatakan. Jika lebih dari nilai normal kemungkinan besar beresiko pada jantung koroner. Hal ini karena kolesterol LDL akan berakumulasi di dinding arteri sehingga membentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit. Proses ini dikenal dengan nama atherosklerosis.



BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kadar Kolesterol dalam serum pasien adalah normal.

B.     Saran
Saran – saran yang dapat diberikan, yaitu :
1.      Pada saat pemipetan sampel atau reagen, usahakan tidak boleh ada gelembung, karena dapat mempengaruhi pembacaan hasil pemeriksaan.
2.      Gunakan ADP (Alat Pelindung Diri) dengan baik dan benar.
3.      Perhatikan kebersihan alat, bahan, dan reagen yang digunakan, agar mengurangi resiko kontaminasi.





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kolesterol sebenarnya diproduksi oleh hati / liver dalam bentuk partikel lembut menyerupai lapisan lilin yang beredar di dalam darah. Fungsi kolesterol sebenarnya adalah sebagai unsur utama membran sel , membantu pencernaan lemak di dalam empedu, pembentukan vitamin D dan hormon steroid ( hormon progresteron, estrogen dan testosteron ). Hati sebenarnya sudah menghasilkan sebagian besar kolesterol yang dibutuhkan oleh tubuh, akan tetapi karena adanya asupan makanan yang mengandung lemak maka jumlah kolesterol akhirnya menjadi berlebihan dan ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya plak yang menempel di dalam pembuluh darah arteri. Plak yang di dalam pembuluh darah arteri terbentuk karena adanya kombinasi dari zat lemak lain, jaringan berserat dan kalsium. Jika lapisan plak tadi semakin lama semakin menebal maka akan menyuumbat saluran pembuluh darah arteri dan akibatnya sirkulasi darah menjadi terhambat. Gejala yang dirasakan jika saluran pembuluh darah tersumbat oleh lapisan plak adalah rasa nyeri di dada. Jika sirkulasi darah terhambat maka akan menimbulkan gangguan pada fungsi jantung yang bisa mengakibatkan serangan jantung, stroke dan bahkan kematian mendadak. 

Jenis
Kolesterol
1.      HDL ( High Density Lipoprotein ).
Ini adalah jenis kolesterol yang baik atau tidak membahayakan kesehatan.
2.      LDL ( LOw Density Lipoprotein ) .
Ini adalah jenis kolesterol yang jahat ( tidak baik ) bagi kesehatan. 
3.      Trigliserida .
Ini adalah tumpukan kolesterol yang berlebihan akibat dari kandungan lemak yang ada pada makanan yang kita makan.

Kandungan kolesterol di dalam darah bisa meningkat tajam dan akhirnya akan menimbulkan penyakit jantung dan stroke. Oleh karena itu, untuk menjaga kolesterol supaya tetap dalam batas yang normal , maka coba hindari makanan yang mengandung kolesterol tinggi , seperti :

1. Bebek
2. Lemak trans yang terdapat pada makanan fast food dan biskuit. 
3. Jerohan ( usus, babat, limpa, otak )
4. kikil sapi dan kambing
5.
Hindari kebiasaan merokok.
B.     Tujuan
Untuk mengetahui kadar Trigliserida dalam darah.
C.    Manfaat
Untuk diagnosa adanya kelainan pada fungsi jantung.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Trigliserida adalah lemak utama di dalam tubuh yang sangat erat kaitannya dengan kolesterol. Trigliserida merupakan lemak darah yang secara khusus berada pada lapis kedua low-density lipoprotein atau LDL. Trigliserida itu sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kolesterol keduanya merupakan lemak serta sama-sama dapat membahayakan tubuh seseorang jika kadar Trigliserida dalam tubuh seseorang terlalu tinggi. Asam lemak yang membentuk trigliserida biasanya akan dimanfaatkan sebagai sumber energi yang diperlukandibutuhkan oleh otot-otot tubuh dalam melakukan pekerjannya atau disimpan dalam bentuk lemak sebagai cadangan energi nya. Hal ini sama dengan yang terjadi akibat kelebihan kolesterol atau gula darah, jika kadar trigliserida dalam darah terlalu tinggi, hal ini dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit lainnya.
Trigliserida sangat berbahaya karena hal ini dapat membuat saluran pada pembuluh darah menyempit. Hal itu mengakibatkan lemak yang ada dalam darah akan menggangu saluran peredaran darah. Dalam beberapa kasus, penderita dengan trigliserida tinggi mengalami beberapa gejala yang terasa seperti halnya, tekanan darah tinggi naik. Namun hal itu bukan berarti setiap tekanan darah yang naik merupakan gejala dari trigliserida tinggi, namun ini merupakan salah satu gejala yang ditimbulkan akibat trigliserida tinggi. Darah merupakan pusat peredaran makanan dan oksigen tubuh, maka jika darah kotor akibat trigliserida tinggi, dengan otomatis metabolisme tubuh seseorang akan ikut terganggu.
Untuk mengukur kadar dari ketiga jenis kolesterol tersebut yaitu dengan cara tes darah di laboratorium. Dengan melalui tes darah ini , maka nantinya bisa diketahui seberapa baik dan buruknya pengaruh dari ketiga jenis kolesterol tersebut terhadap kesehatan tubuh.












BAB III
METODE KERJA

A.    Alat
Alat – alat yang digunakan, yaitu :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Stopwatch
4.      Mikropipet
5.      Plasma cup
6.      Photometer / Microlab 300 ( semi automatic )

B.     Bahan
Bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum
2.      EDTA

C.    Reagensia
Reagensia yang digunakan, yaitu :
1.      Monoreagen Trigliserida
2.      Standar Trigliserida.


D.    Prosedur Kerja
Siapkan 3 buah tabung, lalu pada masing-masing tabung diisi larutan sebagai berikut :
Bahan
Tabung
I (Blanko)
II (Standar)
III (test)
Monoreagen
1000µ
1000µ
1000µ
Standar

10µ

Sampel


10µ
Campur , inkubasi 10 menit pada suhu kamar. Baca pada Mikrolab 300yang telah diprogramkan dengan pemeriksaan Trigliserida.

E.     Nilai Normal
Dewasa           (12-29) tahun              :           10 - 140 mg/dL
                        (30-39) tahun              :           20 - 150 mg/dL
                        (40-49)tahun               :           30 – 160 mg/dL
                        (50 tahun keatas)         :           40 – 190 mg/dL
Anak-anak       (5-19) tahun                :           10 – 135 mg/dL
Balita               (0-4) tahun                  :           5     40 mg/dL




BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.    Data Pengamatan
Nama pasien     : Mersy Ndaomanu
Umur                : 20 tahun
Jenis Kelamin   : Perempuan  
Hasil                 : 74 mg/dL








B.     Pembahasan
Pada pemeriksaan serum sampel pasien ini telah didapat hasil kadar Trigliserida probandus  74 mg/dl, jika dibandingkan dengan nilai normalnya pasien ini dinyatakan Normal . Jika lebih dari nilai normal kemungkinan besar beresiko pada jantung koroner. Hal ini karena trigliserida akan berakumulasi di dinding arteri sehingga membentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit. Proses ini dikenal dengan nama atherosklerosis.

BAB V
PENUTUP

A.    Simpulan
Kadar Trigliserida dalam serum pasien adalah normal.

B.     Saran
Saran – saran yang dapat diberikan, yaitu :
1.      Pada saat pemipetan sampel atau reagen, usahakan tidak boleh ada gelembung, karena dapat mempengaruhi pembacaan hasil pemeriksaan.
2.      Gunakan ADP (Alat Pelindung Diri) dengan baik dan benar.
3.      Perhatikan kebersihan alat, bahan, dan reagen yang digunakan, agar mengurangi resiko kontaminasi.





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tes fungsi hati atau lebih dikenal dengan liver panel atau liver fun­ction test adalah sekelom­pok tes darah yang meng­ukur enzim atau protein ter­tentu di dalam darah anda. Tes fungsi hati umum­nya digunakan untuk mem­bantu men­deteksi, menilai dan meman­tau penyakit atau kerusakan hati.
Biasanya jika untuk meman­tau kon­disi hati, tes ini dilakukan secara ber­kala. Atau dilakukan juga ketika Anda memiliki risiko per­lukaan hati, ketika Anda memiliki penyakit hati, atau mun­cul gejala-gejala ter­tentu seperti jaun­dice (ikterus).
Untuk tes ini diper­lukan con­toh darah yang diam­bil dari pem­buluh balik (vena) umum­nya pada lengan pasien. Dan sebelum tes dilakukan, tidak diper­lukan per­siapan khusus, kecuali tes dilakukan ber­samaan dengan tes lain yang mung­kin memer­lukan per­siapan khusus.
Hati merupakan salah satu organ yang paling besar dalam tubuh manusia. Ber­lokasi di abdomen (perut) bagian atas kanan dan di balik rusuk-rusuk bagian bawah. Hati memetabolisme dan men­detok­sifikasi obat-obatan dan unsur-unsur yang ber­bahaya bagi tubuh. Ia juga meng­hasilkan faktor-faktor, protein dan enzim pem­bekuan darah, mem­bantu keseim­bangan hor­mon, serta menyimpan vitamin dan mineral. Empedu, suatu cairan yang diben­tuk oleh hati, dialirkan melalui saluran lang­sung ke usus halus untuk mem­bantu men­cerna lemak atau ke kan­dung empedu untuk disimpan dan digunakan untuk keper­luan kemudian.
Pel­ba­gai penyakit & infeksi dapat menyebabkan kerusakan akut maupun kronis pada hati, menyebabkan per­adangan, luka, sum­batan saluran empedu, kelainan pem­bekuan darah, dan disfungsi hati. Alkohol, obat-obatan, dan beberapa suplemen her­bal, serta racun juga bisa mem­berikan ancaman. Jika besar­nya kerusakan cukup ber­makna, maka akan menim­bulkan gejala-gejala jaun­dice, urine gelap, tinja ber­warna keabuan terang, pruritus, mual, kelelahan, diare, dan berat badan yang bisa ber­kurang atau ber­tam­bah secara tiba-tiba. Deteksi dini pen­ting untuk diag­nosis lebih awal guna minimalisasi kerusakan dan menyelamatkan fungsi hati.
B.     Tujuan
1.      Mendapatkan gambaran adanya penyakit hepatofilia dan gangguan faal hati.
2.      Menentukan diagnosis ikterus  obstruktif pada anak, membedakan penyakit skelet dan hati.
3.      Memonitor penggunaan alkohol.
C.     Manfaat
1.      Untuk mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi hati.
2.      Mengetahui kadar Gamma Glutamil Transferase (GGT) di dalam serum darah.
D.    Prinsip
α- γ – glutamil – 3 – carboxy – 4 – nitroanilide + glycegicine
α- γ – glutomylglycine + 5 – amino – 2 – nitrobenzoat
Ditentukan FR fotometris dan berbanding lurus dengan aktivitas γ – GT dalam bahan sampel.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Gamma-glutamil transferase (gamma-glutamyl transferase, GGT) adalah enzim yang ditemukan terutama di hati dan ginjal, sementara dalam jumlah yang rendah ditemukan dalam limpa, kelenjar prostat dan otot jantung. Gamma-GT merupakan uji yang sensitif untuk mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim hati. Kebanyakan dari penyakit hepatoseluler dan hepatobiliar meningkatkan GGT dalam serum. Kadarnya dalam serum akan meningkat lebih awal dan tetap akan meningkat selama kerusakan sel tetap berlangsung.
GGT adalah salah satu enzim mikrosomal yang bertambah banyak pada pemakai alkohol, barbiturat, fenitoin dan beberapa obat lain tertentu. Alkohol bukan saja merangsang mikrosoma memproduksi lebih banyak enzim, tetapi juga menyebabkan kerusakan hati, meskipun status gizi peminum itu baik. Kadar GGT yang tinggi terjadi setelah 12-24 jam bagi orang yang minum alkohol dalam jumlah yang banyak, dan mungkin akan tetap meningkat selama 2-3 minggu setelah asupan alkohol dihentikan. Tes gamma-GT dipandang lebih sensitif daripada tes fosfatase alkalis (alkaline phosphatase, ALP).
Metode pemeriksaan untuk tes GGT adalah spektrofotometri atau fotometri, dengan menggunakan spektrofotometer/fotometer atau alat kimia otomatis. Bahan pemeriksaan yang digunakan berupa serum atau plasma heparin.
Masalah Klinis
1)      Peningkatan Kadar : sirosis hati, nekrosis hati akut dan subakut, alkoholisme, hepatitis akut dan kronis, kanker (hati, pankreas, prostat, payudara, ginjal, paru-paru, otak), kolestasis akut, mononukleosis infeksiosa, hemokromatosis (deposit zat besi dalam hati), DM, steatosis hati / hiperlipoproteinemia tipe IV, infark miokard akut (hari keempat), CHF, pankreatitis akut, epilepsi, sindrom nefrotik. Pengaruh obat : Fenitoin (Dilantin), fenobarbital, aminoglikosida, warfarin (Coumadin).
2)      Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
  1. Obat fenitoin dan barbiturat dapat menyebabkan tes gamma-GT positif palsu.
  2. Asupan alkohol berlebih dan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan peningkatan kadar gamma-GT.
Persiapan pasien
Puasa minimal 8 jam :
1)      Untuk meningkatkan kadar GGT karena makanan
2)      Hindari obat atau zat yang dapat mempengaruhi kadar GGT misalnya barbiturat.
3)      Alkohol yang meningkat dan kontrasepsi oral yang menurunkan kadar GGT.
Pada pemeriksaan fungsi hati umumnya aktivitas enzim transminase (SGOT / SGPT) meningkat dan akan turun pada minggu ke dua sampai ke tiga (masa inkubasi). Untuk mengetahui apakah sudah sembuh secara klinis, diperiksa Gamma GT, enzim yang menunjukkan kondisi kesehatan telah kembali normal.
Diagnosa keperawatan
1)      Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan hepar berat.
2)      Perubahan nutrisi yaitu potensial kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan faktor – faktor yang menyebabkan penyakit hepar.
3)      Isolasi sosial yang berhubungan dengan ikhteri.
Nilai Rujukan

30 ° C (U/I)
30 ° C (U/I)
Perempuan
5  -  25
7  -  32
Laki-laki
8  -  38
11  -  50










BAB III
METODE KERJA

A.    Alat
Alat – alat yang digunakan, yaitu :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Stopwatch
4.      Mikropipet
5.      Plasma cup
6.      Photometer / Microlab 300 ( semi automatic )

B.     Bahan
Bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum
2.      EDTA

C.    Reagensia
Reagensia yang digunakan, yaitu
1.      R1  Buffer    :           Tris buffer pH 8,25          100 mmol/l
Glycylglycine                   100 mmol/l
2.      R2  Substrat  :           L- γ –glutamil-3 carboxy- 4 nitroanilide                                                         4     mmol/l          
D.    Prosedur Kerja
1.      Persiapan Larutan Kerja
Campur 1 bagian R2 (200 mikroliter) dan 4 bagian R1(800mikroliter)
2.      Pipet ke dalam tabung 1000µl Reagen dan 100µl sampel, campur dan inkubasi 1 menit.
3.      Baca pada Microlab300 dengan pemeriksaan  program GGT.
4.      Hasil dapat dilihat pada alat.















BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pemeriksaan GGT merupakan salah satu pemeriksaan yang bertujuan untuk  mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi hati. Pada praktikum ini tidak ditemukan hasil pemeriksaan  sebab tidak dilakukan praktikum, sebab ketidak-tersediaannya reagen yang akan digunakan pada pemeriksaan ini.

B.     Saran
Saran yang dapat diberikan, yaitu diharapkan untuk segera melengkapi reagen yang akan digunakan agar praktikum dapat dilakukan.







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Laboratorium adalah tempat untuk menganalisa sampel dan mengeluarkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan secara medis, penegakkan diagnosa dokter dapat merujuk dari hasil yang diperoleh dari laboratorium. Sampel pemeriksaan  laboratorium dapat berupa urin, darah, tinja dan sputum. Dalam pemeriksaan fungsi hati di gunakan beberapa parameter pemeriksaan yaitu  SGPT, SGOT, GGT, Alkali phosphat  dan Bilirubin.
 Pada praktikum kali ini akan di bahas mengenai pemeriksaan alkali phosphat. Pada manusia, fosfatase alkali hadir di semua jaringan seluruh tubuh. Manusia dan mamalia lainnya berisi isoezime alkali fosfatase. Alkali phosphate adalah tes lain yang mungkin dilakukan jika ada kerusakan yang ada di hati, penyumbatan empedu dan kanker hati.

B.     Tujuan
Untuk mengetahui kadar Alkali phosphate di dalam darah

C.    Manfaat
1.      Sebagai test fungsi hati dan jantung.
2.      Menunjukkan sumbatan dalam sistem saluran pembuangan dari empedu.
3.      Mendeteksi ada tidaknya kanker tulang

D.    Prinsi Kerja
Enzim Phosphatase, alkalis dalam substrat P Nitriphinyl phosphat, akan membebaskan P-nitrophenol dan bereaksi dengan NaOH menjadi senyawa Na-Nitrophenol + H2O yang berwarna kuning.
















BAB II
TINJAUAN PUSTKA
Fosfatase alkali (alkaline phosphatase, ALP) merupakan enzim yang diproduksi terutama oleh epitel hati dan osteoblast (sel-sel pembentuk tulang baru). Enzim ini juga berasal dari usus, tubulus proksimalis ginjal, plasenta dan kelenjar susu yang sedang membuat air susu. Fosfatase alkali disekresi melalui saluran empedu. Meningkat dalam serum apabila ada hambatan pada saluran empedu (kolestasis). Tes ALP terutama digunakan untuk mengetahui apakah terdapat penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang.
Pada orang dewasa sebagian besar dari kadar ALP berasal dari hati, sedangkan pada anak-anak sebagian besar berasal dari tulang. Jika terjadi kerusakan ringan pada sel hati, mungkin kadar ALP agak naik, tetapi peningkatan yang jelas terlihat pada penyakit hati akut. Begitu fase akut terlampaui, kadar serum akan segera menurun, sementara kadar bilirubin tetap meningkat. Peningkatan kadar ALP juga ditemukan pada beberapa kasus keganasan (tulang, prostat, payudara) dengan metastase dan kadang-kadang keganasan pada hati atau tulang tanpa matastase (isoenzim Regan).
Kadar ALP dapat mencapai nilai sangat tinggi (hingga 20 x lipat nilai normal) pada sirosis biliar primer, pada kondisi yang disertai struktur hati yang kacau dan pada penyakit-penyakit radang, regenerasi, dan obstruksi saluran empedu intrahepatik. Peningkatan kadar sampai 10 x lipat dapat dijumpai pada obstruksi saluran empedu ekstrahepatik (misalnya oleh batu) meskipun obstruksi hanya sebagian. Sedangkan peningkatan sampai 3 x lipat dapat dijumpai pada penyakit hati oleh alcohol, hepatitis kronik aktif, dan hepatitis oleh virus.
Pada kelainan tulang, kadar ALP meningkat karena peningkatan aktifitas osteoblastik (pembentukan sel tulang) yang abnormal, misalnya pada penyakit Paget. Jika ditemukan kadar ALP yang tinggi pada anak, baik sebelum maupun sesudah pubertas, hal ini adalah normal karena pertumbuhan tulang (fisiologis). Elektroforesis bisa digunakan untuk membedakan ALP hepar atau tulang. Isoenzim ALP digunakan untuk membedakan penyakit hati dan tulang; ALP1 menandakan penyakit hati dan ALP2 menandakan penyakit tulang.
Jika gambaran klinis tidak cukup jelas untuk membedakan ALP hati dari isoenzim-isoenzim lain, maka dipakai pengukuran enzim-enzim yang tidak dipengaruhi oleh kehamilan dan pertumbuhan tulang. Enzim-enzim itu adalah 5’nukleotidase (5’NT), leusine aminopeptidase (LAP) dan gamma-GT. Kadar GGT dipengaruhi oleh pemakaian alkohol, karena itu GGT sering digunakan untuk menilai perubahan dalam hati oleh alcohol daripada untuk pengamatan penyakit obstruksi saluran empedu.
Metode pengukuran kadar ALP umumnya adalah kolorimetri dengan menggunakan alat (misalnya fotometer/spektrofotometer) manual atau dengan analizer kimia otomatis. Elektroforesis isoenzim ALP dilakukan untuk membedakan ALP hati dan tulang. Bahan pemeriksaan yang digunakan berupa serum atau plasma heparin.
Masalah Klinis :
1.       PENINGKATAN KADAR : obstruksi empedu (ikterik), kanker hati, sirosis sel hati, hepatitis, hiperparatiroidisme, kanker (tulang, payudara, prostat), leukemia, penyakit Paget, osteitis deforman, penyembuhan fraktur, myeloma multiple, osteomalasia, kehamilan trimester akhir, arthritis rheumatoid (aktif), ulkus. Pengaruh obat : albumin IV, antibiotic (eritromisin, linkomisin, oksasilin, penisilin), kolkisin, metildopa (Aldomet), alopurinol, fenotiazin, obat penenang, indometasin (Indocin), prokainamid, beberapa kontrasepsi oral, tolbutamid, isoniazid, asam para-aminosalisilat.
2.       PENURUNAN KADAR : hipotiroidisme, malnutrisi, sariawan/skorbut (kekurangan vit C), hipofosfatasia, anemia pernisiosa, isufisiensi plasenta. Pengaruh obat : oksalat, fluoride, propanolol (Inderal).

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
  1. Sampel hemolisis,
  2. Pengaruh obat-obatan tertentu (lihat pengaruh obat),
  3. Pemberian albumin IV dapat meningkatkan kadar ALP 5-10 kali dari nilai normalnya,
  4. Usia pasien (mis. Usia muda dan tua dapat meningkatkan kadar ALP),
  5. Kehamilan trimester akhir sampai 3 minggu setelah melahirkan dapat meningkatkan kadar ALP.
BAB III
METODE KERJA

A.    Alat
Alat – alat yang digunakan :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Mikropipet
4.      Yellow tip
5.      Blue tip
6.      Photometer/Microlab 300

B.     Bahan
Bahan – bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum pasien
2.      Tissue

C.    Reagensia
1.      R1       : Diethanolamine 1,02 mol/l pH 9,8
               Magnesium klorida 0,51 mmol/l
2.      R2       :  p-nitrofenilfosfat 10 mmol/l


D.    Prosedur Kerja
a.       Pembuatan monoreagent :
a)      Reagent Start
Monoreagent
Tabung
Reagen 1
1.600 µl
Reagen 2
400 µl
Campur selama ± 1 menit

b)      Sample Start
Bahan
Test
Monoreagent     ( R1 + R2 )
1.000 µl
Sampel
20 µl
Aquadest

Campur, inkubasi 1 menit pada suhu 370C.
Hasil diukur pada Mikrolab 300.


b.      Nilai Normal :
Jenis Kelamin
30oC
37oC
Pria
30 – 90 IU/L
5 – 25 IU/L
Wanita
45 – 132 IU/L
8 – 18 IU/L


BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pemeriksaan ALP merupakan salah satu pemeriksaan yang bertujuan untuk  mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi hati dan tulang. Pada praktikum ini tidak ditemukan hasil pemeriksaan  sebab tidak dilakukan praktikum, sebab ketidak-tersediaannya reagen yang akan digunakan pada pemeriksaan ini.

B.     Saran
Saran yang dapat diberikan, yaitu diharapkan untuk segera melengkapi reagen yang akan digunakan agar praktikum dapat dilakukan.







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tes fungsi hati atau lebih dikenal dengan liver panel atau liver fun­ction test adalah sekelom­pok tes darah yang meng­ukur enzim atau protein ter­tentu di dalam darah anda. Tes fungsi hati umum­nya digunakan untuk mem­bantu men­deteksi, menilai dan meman­tau penyakit atau kerusakan hati.
Biasanya jika untuk meman­tau kon­disi hati, tes ini dilakukan secara ber­kala. Atau dilakukan juga ketika Anda memiliki risiko per­lukaan hati, ketika Anda memiliki penyakit hati, atau mun­cul gejala-gejala ter­tentu seperti jaun­dice (ikterus).
Untuk tes ini diper­lukan con­toh darah yang diam­bil dari pem­buluh balik (vena) umum­nya pada lengan pasien. Dan sebelum tes dilakukan, tidak diper­lukan per­siapan khusus, kecuali tes dilakukan ber­samaan dengan tes lain yang mung­kin memer­lukan per­siapan khusus.
Hati merupakan salah satu organ yang paling besar dalam tubuh manusia. Ber­lokasi di abdomen (perut) bagian atas kanan dan di balik rusuk-rusuk bagian bawah. Hati memetabolisme dan men­detok­sifikasi obat-obatan dan unsur-unsur yang ber­bahaya bagi tubuh. Ia juga meng­hasilkan faktor-faktor, protein dan enzim pem­bekuan darah, mem­bantu keseim­bangan hor­mon, serta menyimpan vitamin dan mineral. Empedu, suatu cairan yang diben­tuk oleh hati, dialirkan melalui saluran lang­sung ke usus halus untuk mem­bantu men­cerna lemak atau ke kan­dung empedu untuk disimpan dan digunakan untuk keper­luan kemudian.
Pemeriksaan laboratorium klinik merupakan salah  satu faktor penunjang yang sangat penting dalam membantu diagnosis suatu penyakit. Pelayanan pemeriksaan laboratorium klinik biasanya di lakukan sesuai dengan permintaan dokter sehubungan dengan  gejala klinis dari penderita.
Pada saat ini banyak test faal hati yang dapat di lakukan, salah satu test faal hati adalah pemeriksaan kadar bilirubin dalam serum. Pemeriksaaan bilirubin dalam serum dapat menggambarkan faal  sekresi hati, dan dapat memberikan informasi tentang kesanggupan hati mengangkut empedu secara umum disamping memberikan informasi tentang kesanggupan untuk mengkonjugasi bilirubin dan diekskresikan ke empedu. Pemeriksaan bilirubin direct dan indirect digunakan untuk menentukan lokasi gangguan aliran darah (apakah berada di lokasi sebelum, dalam, atau sesudah organ hati).
B.     Tujuan
1.      Mengevaluasi fungsi hepatobilier dan eritropoitik (gangguan hemolitik transfuse darah).
2.      Membedakan diagnostik ikterus dan memonitor progresifitasnya.
3.      Membedakan diagnosis obstruksi bilier (bilirubin direct) dan anemia hemolitik (bilirubin indirect).
4.      Untuk membedakan dan menentukan apakah bayi perlu transfusi atau fototerapi karena meningginya ankonjugated.
5.      Untuk membantu mendiagnosa penyakit hepar.
C.     Manfaat
1.      Untuk mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi hati.
2.      Mengetahui kadar Bilirubin di dalam serum darah.
D.    Prinsip
Bilirubin bereaksi dengan 4 – sulfobenzehediazonium chloride membentuk senyawa berwarna merah (azobilirubin). Bilirubin + diazonium + ion → azobilirubin. Intensitas warna yang terjadi sesuai dengan konsentrasi bilirubin yang diukur denan photometer.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di samping itu sekitar 20% bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut dalam air; bilirubin yang disekresikan dalam darah harus diikatkan kepada albumin untuk diangkut dalam plasma menuju hati. Di dalam hati, hepatosit melepaskan ikatan itu dan mengkonjugasinya dengan asam glukoronat sehingga bersifat larut air. Proses konjugasi ini melibatkan enzim glukoroniltransferase.
Bilirubin terkonjugasi (bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin) masuk ke saluran empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan mengubahnya menjadi urobilinogen dan dibuang melalui feses serta sebagian kecil melalui urin. Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang terdiazotasi membentuk azobilirubin (reaksi van den Bergh), karena itu sering dinamakan bilirubin direk atau bilirubin langsung.
Bilirubin tak terkonjugasi (hematobilirubin) yang merupakan bilirubin bebas yang terikat albumin harus lebih dulu dicampur dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat bereaksi, karena itu dinamakan bilirubin indirek atau bilirubin tidak langsung.
Peningkatan kadar bilirubin direk menunjukkan adanya gangguan pada hati (kerusakan sel hati) atau saluran empedu (batu atau tumor). Bilirubin terkonjugasi tidak dapat keluar dari empedu menuju usus sehingga akan masuk kembali dan terabsorbsi ke dalam aliran darah.
Peningkatan kadar bilirubin indirek sering dikaitkan dengan peningkatan destruksi eritrosit (hemolisis), seperti pada penyakit hemolitik oleh autoimun, transfusi, atau eritroblastosis fatalis. Peningkatan destruksi eritrosit tidak diimbangi dengan kecepatan kunjugasi dan ekskresi ke saluran empedu sehingga terjadi peningkatan kadar bilirubin indirek.
Hati bayi yang baru lahir belum berkembang sempurna sehingga jika kadar bilirubin yang ditemukan sangat tinggi, bayi akan mengalami kerusakan neurologis permanen yang lazim disebut kenikterus. Kadar bilirubin (total) pada bayi baru lahir bisa mencapai 12 mg/dl; kadar yang menimbulkan kepanikan adalah > 15 mg/dl. Ikterik kerap nampak jika kadar bilirubin mencapai > 3 mg/dl. Kenikterus timbul karena bilirubin yang berkelebihan larut dalam lipid ganglia basalis.
Dalam uji laboratorium, bilirubin diperiksa sebagai bilirubin total dan bilirubin direk. Sedangkan bilirubin indirek diperhitungkan dari selisih antara bilirubin total dan bilirubin direk. Metode pengukuran yang digunakan adalah fotometri atau spektrofotometri yang mengukur intensitas warna azobilirubin.
Masalah klinis :
1.      Bilirubin Direk
a.       Peningkatan kadar
Ikterik obstruktif karena batu atau neoplasma, hepatitis, sirosis hati, mononucleosis infeksiosa, metastasis (kanker) hati, penyakit Wilson. Pengaruh obat : antibiotik (amfoterisin B, klindamisin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, oksasilin, tetrasiklin), sulfonamide, obat antituberkulosis (asam para-aminosalisilat, isoniazid), alopurinol, diuretik (asetazolamid, asam etakrinat), mitramisin, dekstran, diazepam (valium), barbiturate, narkotik (kodein, morfin, meperidin), flurazepam, indometasin, metotreksat, metildopa, papaverin, prokainamid, steroid, kontrasepsi oral, tolbutamid, vitamin A, C, K.
b.      Penurunan kadar
Anemia defisiensi besi. Pengaruh obat : barbiturate, salisilat (aspirin), penisilin, kafein dalam dosis tinggi.
2.      Bilirubin Indirek
a.    Peningkatan kadar
Eritroblastosis fetalis, anemia sel sabit, reaksi transfuse, malaria, anemia pernisiosa, septicemia, anemia hemolitik, talasemia, CHF, sirosis terdekompensasi, hepatitis. Pengaruh obat : aspirin, rifampin, fenotiazin (lihat biliribin total, direk)
b.    Penurunan kadar
Pengaruh obat (lihat bilirubin total, direk)
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
1.      Makan malam yang mengandung tinggi lemak sebelum pemeriksaan dapat mempengaruhi kadar bilirubin.
2.      Wortel dan ubi jalar dapat meningkatkan kadar bilirubin.
3.      Hemolisis pada sampel darah dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
4.      Sampel darah  yang  terpapar sinar matahari atau terang lampu, kandungan pigmen empedunya akan menurun.
5.      Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan kadar bilirubin.

















BAB III
METODE KERJA
A.    Alat
Alat – alat yang digunakan, yaitu :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Stopwatch
4.      Mikropipet
5.      Plasma cup
6.      Cuvet
7.      Photometer / Microlab 300 ( semi automatic )
B.     Bahan
Bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum
2.      EDTA
3.      Tissue
C.    Reagensia
Reagensia yang digunakan, yaitu :
1.      Reagent 1 : Reagent total bilirubin
2.      Reagent 2 : Reagent nitrit total
3.      Reagent 3 : Reagent direct bilirubin
4.      Reagent 4 : Reagent nitrit direct

D.    Prosedur Kerja
a.       Bilirubin Total :
a)      Pipet ke dalam tabung :
Bahan
Blanko
Test
R1
1.000 µl
1.000 µl
Sampel
100 µl
100 µl
R2
-
100 µl
Campur, inkubasi 3 menit pada suhu 300C atau 2 menit pada suhu 37oC.
Baca pada Mirolab 300.

b.       Bilirubin Direct
a)      Pipet ke dalam tabung :
Bahan
Blanko
Test
R3
1.000 µl
1.000 µl
Sampel
100 µl
100 µl
R4
-
10 µl
Campur, inkubasi 3 menit pada suhu 300C atau 2 menit pada suhu 37oC.
Baca pada Mirolab 300



c.       Bilirubin Indirect :
Bilirubin Indirect = Bilirubin Total – Bilirubin Direct

d.      Nilai Normal :
Keterangan
Bilirubin Total
Bilirubin Direct
Bilirubin Indirect
Dewasa
0,1 – 1,2 mg/dl
0,1 – 0,3 mg/dl
0,1 – 1,0 mg/dl
Anak
0,2 – 0,8 mg/dl
0,1 – 0,3 mg/dl
0,1 – 1,0 mg/dl
Bayi baru lahir
1,0 – 12,0 mg/dl
0,1 – 0,3 mg/dl
0,1 – 1,0 mg/dl















BAB IV
PENUTUP
A.    Simpulan
Pemeriksaan Bilirubin  merupakan salah satu pemeriksaan yang bertujuan untuk  mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi hati. Pada praktikum ini tidak ditemukan hasil pemeriksaan  sebab tidak dilakukan praktikum, sebab ketidak-tersediaannya reagen yang akan digunakan pada pemeriksaan ini.

B.     Saran
Saran yang dapat diberikan, yaitu diharapkan untuk segera melengkapi reagen yang akan digunakan agar praktikum dapat dilakukan.







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ginjal merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi vital bagi manusia. Ginjal merupakan organ ekskresi yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Pada manusia normal, terdapat sepasang ginjal yang terletak dibelakang perut, atau abdomen. Ginjal tersebut terletak di kanan dan kiri tulang belakang, di bawah hati dan limpa. Dengan menjaga keseimbangan susunan cairan ekstrasel secara tidak langsung juga terjaga susunan cairan intrasel yang memungkinkan berfungsinya sel-sel secara normal.
Faal ginjal dapat terganggu oleh berbagai penyakit atau keadaan patologik baik yang mengenai ginjal maupun yang primernya bukan pada ginjal. Keadaan ini dapat diketahui dengan dilakukan pemeriksaan laboratorium yang berdasarkan reaksi kimia dapat digunakan darah, urin atau cairan tubuh lain. Pemeriksaan kimia darah dapat meliputi uji faal hati, jantung, ginjal, lemak darah, kadar gula darah, kelainan pankreas, elektrolit dan membantu menegakkan diagnosis anemi.
Uji faal ginjal terutama adalah pemeriksaan ureum dan kreatinin. Ureum adalah produk akhir dari metabolisme protein di dalam tubuh yang dikeluarkan lewat urin sehingga pada kelainan ginjal, pengeluaran ureum ke dalam urin terhambat sehingga kadarnya akan meningkat di dalam darah. Kreatinin merupakan zat yang dihasilkan oleh otot dan dikeluarkan dari tubuh melalui urin. Oleh karena itu, kadar kreatinin darah tergantung pada jenis kelamin, besar otot, dan faal ginjal.

B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui kadar ureum dalam darah.
2.      Untuk membantu mendiagnosa kelainan fungsi ginjal.

C.     Manfaat
Ureum di hidrolisa oleh air dan urease untuk menghasilkan amoniak dan karbondioksida pada reaksi modifikasi Berhelot. Ion amonium bereaksi dengan hipoklorit dan salisilat menghasilkan endapan hijau. Absorbansi akan mengikat pada panjang gelombang 578 nm yang merupakan konsentrasi ureum dalam sampel


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 20 mg – 40 mg setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang di makan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum. Berikut merupakan beberapa masalah klinisnya :
1.      Peningkatan kadar
Peningkatan kadar urea disebut uremia. Azotemia mengacu pada peningkatan semua senyawa nitrogen berberat molekul rendah (urea, kreatinin, asam urat) pada gagal ginjal. Penyebab uremia dibagi menjadi tiga, yaitu penyebab prarenal, renal, dan pascarenal.
Mekanisme tersebut meliputi : 1) penurunan aliran darah ke ginjal seperti pada syok, kehilangan darah, dan dehidrasi; 2) peningkatan katabolisme protein seperti pada perdarahan gastrointestinal disertai pencernaan hemoglobin dan penyerapannya sebagai protein dalam makanan, perdarahan ke dalam jaringan lunak atau rongga tubuh, hemolisis, leukemia (pelepasan protein leukosit), cedera fisik berat, luka bakar, demam. Uremia renal terjadi akibat gagal ginjal (penyebab tersering) yang menyebabkan gangguan ekskresi urea. Gagal ginjal akut dapat disebabkan oleh glomerulonefritis, hipertensi maligna, obat atau logam nefrotoksik, nekrosis korteks ginjal. Gagal ginjal kronis disebabkan oleh glomerulonefritis, pielonefritis, diabetes mellitus, arteriosklerosis, amiloidosis, penyakit tubulus ginjal, penyakit kolagen-vaskular. 
Uremia pascarenal terjadi akibat obstruksi saluran kemih di bagian bawah ureter, kandung kemih, atau urethra yang menghambat ekskresi urin. Obstruksi ureter bisa oleh batu, tumor, peradangan, atau kesalahan pembedahan. Obstruksi leher kandung kemih atau uretra bisa oleh prostat, batu, tumor, atau peradangan. Urea yang tertahan di urin dapat berdifusi masuk kembali ke dalam darah.
Beberapa jenis obat dapat mempengaruhi peningkatan urea, seperti : obat nefrotoksik; diuretic (hidroklorotiazid, asam etakrinat, furosemid, triamteren); antibiotik (basitrasin, sefaloridin (dosis besar), gentamisin, kanamisin, kloramfenikol, metisilin, neomisin, vankomisin); obat antihipertensi (metildopa, guanetidin); sulfonamide; propanolol, morfin; litium karbonat; salisilat. Sedangkan obat yang dapat menurunkan kadar urea misalnya fenotiazin.



2.      Penurunan kadar
Penurunan kadar urea sering dijumpai pada penyakit hati yang berat. Pada nekrosis hepatik akut, sering urea rendah asam-asam amino tidak dapat dimetabolisme lebih lanjut. Pada sirosis hepatis, terjadipengurangan sintesis dan sebagian karena retensi air oleh sekresi hormone antidiuretik yang tidak semestinya.

                       












BAB III
METODE KERJA

A.    Alat
Alat – alat yang digunakan, yaitu :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Stopwatch
4.      Mikropipet
5.      Photometer / Microlab 300 ( semi automatic )

B.     Bahan
Bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum
2.      EDTA

C.    Reagensia
Reagensia yang digunakan, yaitu :
1.      Monoreagen Ureum
2.      Standar Ureum.

D.    Prosedur Kerja.
a.       Menggunakan Mikrolab 300
a)      Siapkan 3 tabung bersih .
b)      Pada tabung 1 masukkan 1000 µl sebagai blanko .
c)      Pada tabung 2 masukkan 1000 µl monoreagen dan tambahkan 10 µl standar sebagai standar.
d)     Pada tabung 3 masukkan 1000 µl monoreagen dan tambahkan 10 µl serum sampel untuk test .
e)      Masing masing tabung di inbubasi selama 10 menit, pada suhu 37oC lalu diperiksa dengan alat Mikrolab 300 yang telah di setting.
f)       Kemudian baca hasilnya.

b.      Dengan menggunakan ABX Pentra 400 :
a)      Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b)      Dengan m,enggunakan mikropipet, pipet serum ± 400 µl, masukkan dalam cup serum.
c)      Hidupkan ABX Pentra 400.
d)     Pada menu awal ( Windows ), click/touch menu worklist.
e)      Pilih menu Patient, lalu klik tanda (+) pada bagian bawah.
f)       Isilah kolom – kolom pada bagian Patient Demographics dan Samples Characteristics secara lengkap.
g)      Beri cek pada parameter Ureum, lalu klik tanda check.          
h)      Segera masukan cup serum pada rak dan posisi yang telah ditentukan.
i)        Tunggu beberapa menit untuk Processing.
j)        Segera amati hasil pemeriksaan Ureum  pada kolom Analysis Result.
k)      Klik menu Print pada bagian atas, untuk didapatkan Printout hasil yang akan diserahkan pada dokter dan pasien.

E.     Nilai Normal
Dewasa           : 7 – 20 mg/dL
Anak-anak       : 5 – 18 mg/dL













BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pemeriksaan Ureum  merupakan salah satu pemeriksaan yang bertujuan untuk  mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi hati. Pada praktikum ini tidak ditemukan hasil pemeriksaan  sebab tidak dilakukan praktikum, sebab ketidak-tersediaannya reagen yang akan digunakan pada pemeriksaan ini.

B.     Saran
Saran yang dapat diberikan, yaitu diharapkan untuk segera melengkapi reagen yang akan digunakan agar praktikum dapat dilakukan.







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pemeriksaan kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter penting untuk mengetahui fungsi ginjal. Pemeriksaan ini juga sangat membantu kebijakan melakukan terapi pada penderita gangguan fungsi ginjal. Tinggi rendahnya kadar kreatinin dalam darah digunakan sebagaiindikator penting dalam menentukan apakah seorang dengan gangguanfungsi ginjal memerlukan tindakan.
Kreatinin mempunyai batasan normal yang sempit, nilai di atas batasan ini menunjukkan semakin berkurangnya nilai ginjal secara pasti. Disamping itu terdapat hubungan jelas antara bertambahnya nilai kreatinin dengan derajat kerusakan ginjal, sehingga diketahui pada nilai berapa perlu dilakukan cuci darah.
Pemilihan metode yang tepat juga banyak membantu dalam melakukan pemeriksaan. Ada beberapa metode yang digunakan dalam pemeriksaan kreatinin dalam darah. Deproteinasi dan tanpa deproteinasi merupakan salah satu cara yang banyak dipakai. Deproteinasi adalah dengan penambahan TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N pada serum sebelum melakukan pengukuran, yang berfungsi mengendapkan protein dan senyawa – senyawa kimia askorbat, aseto asetat, piruvat, sevalosporin dan metildopa, sedangkan cara tanpa deproteinasi adalah tanpa penambahan TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N atau disebut juga fixed kinetik, yaitu pengukuran kreatinin dalam suasana alkalis dan konsentrasi di tentukan dengan ketepatan waktu pembacaan. Kedua cara ini mungkin juga akan ditemukan hasil yang tidak sama.

B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui kadar kreatinin dalam darah.
2.      Untuk diagnosa kelainan fungsi ginjal.

C.     Manfaat
Dalam suasana alkalis, kreatinin bila ditambah asam pikrat akan membentuk suatu warna yang kompleks yang berwarna kuning orange. Intensitas warna dibandingkan dengan konsentrasi dan diukur secara fotometer





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kreatinin merupakan produk penguraian keratin. Kreatin disintesis di hati dan terdapat dalam hampir semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin fosfat (creatin phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis ATP (adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate), kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK). Seiring dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi kreatinin, yang selanjutnya difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin.
Jumlah kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan masif pada otot. Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Oleh karena itu kreatinin dianggap lebih sensitif dan merupakan indikator khusus pada penyakit ginjal dibandingkan uji dengan kadar. Sedikit peningkatan kadar BUN dapat menandakan terjadinya hipovolemia (kekurangan volume cairan); namun kadar kreatinin sebesar 2,5 mg/dl dapat menjadi indikasi kerusakan ginjal. Kreatinin serum sangat berguna untuk mengevaluasi fungsi glomerulus.
Keadaan yang berhubungan dengan peningkatan kadar kreatinin adalah : gagal ginjal akut dan kronis, nekrosis tubular akut, glomerulonefritis, nefropati diabetik, pielonefritis, eklampsia, pre-eklampsia, hipertensi esensial, dehidrasi, penurunan aliran darah ke ginjal (syok berkepanjangan, gagal jantung kongestif), rhabdomiolisis, lupus nefritis, kanker (usus, kandung kemih, testis, uterus, prostat), leukemia, penyakit Hodgkin, diet tinggi protein (mis. daging sapi (kadar tinggi), unggas, dan ikan (efek minimal).
Untuk menilai fungsi ginjal, permintaan pemeriksaan kreatinin dan BUN hampir selalu disatukan (dengan darah yang sama). Kadar kreatinin dan BUN sering diperbandingkan. Rasio BUN/kreatinin biasanya berada pada kisaran 12-20. Jika kadar BUN meningkat dan kreatinin serum tetap normal, kemungkinan terjadi uremia non-renal (prarenal); dan jika keduanya meningkat, dicurigai terjadi kerusakan ginjal (peningkatan BUN lebih pesat daripada kreatinin). Pada dialisis atau transplantasi ginjal yang berhasil, urea turun lebih cepat daripada kreatinin. Pada gangguan ginjal jangka panjang yang parah, kadar urea terus meningkat, sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar, mungkin akibat akskresi melalui saluran cerna. Rasio BUN/kreatinin rendah (<12)>20) dengan kreatinin normal dijumpai pada uremia prarenal, diet tinggi protein, perdarahan saluran cerna, keadaan katabolik. Rasio BUN/kreatinin tinggi (>20) dengan kreatinin tinggi dijumpai pada azotemia prarenal dengan penyakit ginjal, gagal ginjal, azotemia pascarenal.
Jenis sampel untuk uji kreatinin darah adalah serum atau plasma heparin. Kumpulkan 3-5 ml sampel darah vena dalam tabung bertutup merah (plain tube) atau tabung bertutup hijau (heparin). Lakukan sentrifugasi dan pisahkan serum/plasma-nya. Catat jenis obat yang dikonsumsi oleh penderita yang dapt meningkatkan kadar kreatinin serum. Tidak ada pembatasan asupan makanan atau minuman, namun sebaiknya pada malam sebelum uji dilakukan, penderita dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi daging merah.
Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kreatinin adalah : Amfoterisin B, simetidin, asam askorbat, obat kemoterapi sisplatin, trimetoprim, barbiturat, litium karbonat,mitramisin,metildopa,triamteren. Penurunan kadar kreatinin dapat dijumpai pada : distrofi otot (tahap akhir), myasthenia gravis. Kadar kreatinin diukur dengan metode kolorimetri menggunakan spektrofotometer, fotometer atau analyzer kimiawi.
BAB III
METODE KERJA

A.    Alat
Alat – alat yang digunakan, yaitu :
1.      Tabung reaksi
2.      Rak tabung
3.      Stopwatch
4.      Mikropipet
5.      Photometer / Microlab 300 ( semi automatic )

B.     Bahan
Bahan yang digunakan, yaitu :
1.      Serum
2.      EDTA

C.    Reagensia
1.      Monoreagen Kreatinin
2.      Standar Kreatinin.

D.    Prosedur Kerja
a.       Menggunakan Mikrolab 300
a)      Siapkan 3 tabung bersih .
b)      Tabung 1 masukkan 1000 µl monoreagen sebagai blanko
c)      Tabung 2 masukkan 1000 µl monoreagen dan tambahkan 10 µl standar creatinin sebagai standar .
d)     Tabung 3 masukkan 1000 µl monoreagen dan tambahkan 10 µl serum sampel sebagai test .
e)      Masing masing di inkubasi selama 10 menit pada suhu 37oC.
f)       Periksa dengan alat Mikrolab 300 yang telah di setting  .
g)      Baca hasil.

b.      Menggunakan ABX Pentra 400 :
a)      Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b)      Dengan m,enggunakan mikropipet, pipet serum ± 400 µl, masukkan dalam cup serum.
c)      Hidupkan ABX Pentra 400.
d)     Pada menu awal ( Windows ), click/touch menu worklist.
e)      Pilih menu Patient, lalu klik tanda (+) pada bagian bawah.
f)       Isilah kolom – kolom pada bagian Patient Demographics dan Samples Characteristics secara lengkap.
g)      Beri cek pada parameter Kreatin, lalu klik tanda check.          
h)      Segera masukan cup serum pada rak dan posisi yang telah ditentukan.
i)        Tunggu beberapa menit untuk Processing.
j)        Segera amati hasil pemeriksaan Kreatin pada kolom Analysis Result.
k)      Klik menu Print pada bagian atas, untuk didapatkan Printout hasil yang akan diserahkan pada dokter dan pasien.
c.       Metode Endpoint.
a)      Komposisi Reagen
R1                 : 100 ml Asam pikrat
R2                 : 100 ml Natrium hidroksida
Standar         : 25 ml larutan standar 2 mg/dL atau      176,8mmol/l.
b)      Persiapan Reagen
R1 + R2: campur dengan perbandingan sama banyak  R1+R2 (1+1). Larutan standar siap dipakai.
c)      Prosedur  Kerja
DEPROTEINASI
MAKRO
SEMI MIKRO
Sampel
1,0
-
-
0,5
-
-
Ml
standar
-
1,0
-
-
0,5
-
Ml
Aquabidest
-
-
1,0
-
-
0,5
Ml
TCA
1,0
1,0
1,0
0,5
0,5
0,5
Ml
Campur, centrifuge sampel pada kecepatan tinggi 5-10 menit pada 1000 rpm
         
Panjang gelombang     : Hg 546 (500-550 nm)
          Tebal cuvet                  : 1 cm
          Temperatur                   : 25oC
          Pengukuran terhadap   : Blanko reagen

RB
STD
SPL
RB
SDT
SPL
Supernatan
0
1,0
1,0
0,5
0,5
0,5
Reagen R1 + R2
1,0
1,0
1,0
0,5
0,5
0,5
Campur, inkubasi 20 menit, ukur absorban standar (AskL) dan sampel (Aspl) terhadap blanko reagen (RB)

E.     Nilai Normal
1.   DEWASA          :           Laki-laki : 0,8-1,4 mg/dl.
Perempuan:0,6-1,2mg/dl.
2.   ANAK               :           Bayi baru lahir : 0,8-1,4 mg/dl.
Bayi : 0,7-1,4 mg/dl.
Anak (2-6 tahun) : 0,3-0,6 mg/dl.
Anak yang lebih tua : 0,4-1,2 mg/dl.






BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pemeriksaan Kreatinin   merupakan salah satu pemeriksaan yang bertujuan untuk  mendiagnosa adanya kelainan pada fungsi ginjal . Pada praktikum ini tidak ditemukan hasil pemeriksaan  sebab tidak dilakukan praktikum, sebab ketidak-tersediaannya reagen yang akan digunakan pada pemeriksaan ini.

B.     Saran
Saran yang dapat diberikan, yaitu diharapkan untuk segera melengkapi reagen yang akan digunakan agar praktikum dapat dilakukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar